Ratusan Siswa SMK Pelayaran Wira Samudera Unjuk Rasa di Halaman YPP Semarang, Ini Tuntutan Mereka

Ratusan siswa-siswi SMK Pelayaran Wira Samudera melakukan unjuk rasa di halaman Yayasan Pendidikan Pembangunan (YPP)

Ratusan Siswa SMK Pelayaran Wira Samudera Unjuk Rasa di Halaman YPP Semarang, Ini Tuntutan Mereka
Tribunjateng.com/Hermawan Handaka
Ratusan Siswa SMK YPP Semarang Menangis Meminta Kejelasan Nasibnya 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Saiful Ma'sum

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ratusan siswa-siswi SMK Pelayaran Wira Samudera melakukan unjuk rasa di halaman Yayasan Pendidikan Pembangunan (YPP) Jalan Kokrosono nomer 70 Kota Semarang, Kamis (10/1/2019) siang.

Tercatat sebanyak 233 siswa dari kelas 1, 2, dan 3 berkumpul di halaman dengan memakai pakaian lengkap membawa spanduk dengan bertuliskan macam tuntutan.

Satu di antaranya bertuliskan "siapa yang akan bertanggung jawab atas masa depan kami baik pidana maupun perdata apabila approval tercabut".

Terlihat juga belasan alumni SMK Pelayaran Wira Samudera ikut serta melakukan aksi unjuk rasa.

Alumni 2018, Pawestri Wulan mengatakan, penyampaian aspirasinya bersama teman-teman untuk meminta pertanggungjawaban atas pembongkaran ruangan praktik pada akhir tahun 2017 yang lalu.

"Lihat saja sudah dibongkar 1 tahun yang lalu, tapi sampai sekarang belum juga ada proses pembangunan, katanya saja mau dibenahi supaya lebih baik lagi" terangnya kepada Tribunjateng.com.

Menurut Wulan, dampak pembongkaran  para siswa kini tidak memiliki tempat yang layak untuk melakukan praktik.

"Ruangan yang dibongkar tak kunjung di perbaiki, alat-alat terpaksa kami pindahkan di depan kelas"

"Mau gak mau prosesi pembelajaran di dalam kelas terganggu dengan bisingnya suara alat," jelasnya.

Perempuan asli Yogyakarta tersebut bersama ratusan temannya berharap pihak sekolah dan yayasan bisa segera menindaklanjuti pembenahan bangunan yang dibongkar.

Para siswa khawatir, ketidakefektifan proses pembelajaran akan berdampak terhadap pencabutan atau pembekuan ijin approval.

"Jelas KBM sangat terganggu, teori dan praktik bercampur dalam 1 lokasi, apalagi sekarang 1 ruang kelas diisi lebih dari 30 orang, tidak kondusif," terang Wulan.

"Kalau nantinya ada monitoring dari pihak kelautan dengan melihat kondisi sekolah seperti ini, bukan tidak mungkin approval bisa dicabut, kalau sudah terjadi nasib masa depan para siswa bagaimana," lanjutnya.

Terlihat puluhan jajaran kepolisian setempat berjaga-jaga di depan pintu gerbang yayasan hingga kegiatan selesai. (*)

Penulis: Saiful Ma'sum
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved