Gabungkan Seni dan Teknologi; Cara Unika Soegijapranata Rayakan Natal

Pementasan menggabungkan seni wayang orang dan juga teknologi, yakni efek komputer pada latar belakang pementasan.

Gabungkan Seni dan Teknologi; Cara Unika Soegijapranata Rayakan Natal
Tribun Jateng/Akbar Hari Mukti
Salah satu adegan dalam pementasan wayang modern Gatotkaca Lahir di Unika Soegijapranata Semarang, Jumat (11/1/2019).

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dewa-dewa di Kahyangan sedang gundah. Pasalnya mereka sedang mendapatkan masalah, yang disebabkan Prabu Niwatakawaca. Prabu Niwatakawaca ingin mempersunting Batari Supraba.

Tetapi terdapat aturan, raksasa seperti Prabu Niwatakawaca harus memiliki istri seorang raksasa juga. Merasa ditolak, dia mengutus Patih Kala Sekipu untuk mengacau Kahyangan.

Raja para dewa, Sang Hyang Jagat Girinanta mengutus seseorang menuju Kasatriyan Jodhupati untuk meminta tolong Raden Werkudara menumpas pengacau Kahyangan.

Kebetulan, Raden Werkudara dan Dewi Arimbi sedang berbahagia, karena anak mereka berdua baru saja lahir. Anak itu kemudian diberi nama Raden Gatotkaca. Pada akhirnya, Raden Gatotkaca yang bisa membunuh Prabu Niwatakawaca.

Itu sepenggal kisah pewayangan berlakon Gatotkaca Lahir, yang digelar di Gedung Albertus Unika Soegijapranata, Jumat (11/1/2019). Ada konsep unik dalam pementasan sekaligus perayaan Natal Unika Soegijapranata Semarang itu.

Pementasan itu menggabungkan seni wayang orang dan juga teknologi, yakni efek komputer pada latar belakang pementasan. Alasan Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr Ridwan Sanjaya, ingin gabungkan kebudayaan lokal Indonesia dan perayaan Natal.

"Dengan adanya kearifan lokal ini, seperti sebuah representasi hari Natal. Tak hanya wayang, perayaan Natal juga ada pementasan sendratari Ngesti Pandawa," papar Prof Ridwan kepada Tribunjateng.com, Jumat (11/1/2019).

Adapun lakon Gatotkaca Lahir menurut Ridwan, merupakan representasi kelahiran Yesus Kritus. Untuk pementasan disebutnya modern karena menggabungkan manusia dan teknologi. Meski begitu inti dari pementasan adalah wujud rasa bangga terhadap segala budaya lokal di tanah air.

"Ini rasa bangga kami memiliki budaya sendiri, rasa ingin menjaga kearifan lokal yang ada di Indonesia," ungkapnya.

Pastor Romo Aloysisus Budi Purnomo Pr menambahkan, terlibat secara sinergis dalam berbagai aktivitas di masyarakat maupun lingkup kampus merupakan bagian tema Natal kali ini. Menurutnya dengan begitu pihaknya juga membangun dan meningkatkan kualitas kehidupan bersama antar masyarakat.

"Kekuatan masing-masing yang saling mengisi satu sama lain akan menjadi berkat yang luar biasa bagi kami maupun orang-orang sekitar," paparnya. (*)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved