Pakar Transportasi : Kelola Tol Trans Jawa Secara Profesional Agar Korban Kecelakaan Tak Bertambah

Tol Pemalang-Batang sepanjang 39 kilometer yang menjadi bagian dari Tol Trans Jawa perlu dioptimalkan lagi.

Pakar Transportasi : Kelola Tol Trans Jawa Secara Profesional Agar Korban Kecelakaan Tak Bertambah
ISTIMEWA
Perbaikan yang dilakukan di kilometer 330 Jalan Tol Pemalang-Batang oleh pihak SMJ, Senin (7/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Pakar Transpotasi yang juga akedimisi dari Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Semarang Djoko Setijowarno mengatakan Tol Pemalang-Batang sepanjang 39 kilometer yang menjadi bagian dari Tol Trans Jawa perlu dioptimalkan lagi.

Menilik dari beberapa kecelakaan di ruas Tol Pemalang-Batang selama dioperasionalkan pada 20 Desember 2018 lalu, pihaknya menyarankan rest area segera dibangun, serta penerangan jalan segera dipasang untuk meminimalisir angka kecelakaan.

“Percepatan pembangunan memang bagus, yang sejatinya untuk memangkas waktu perjalanan. Namun dampaknya, sarana dan prasarana kurang memadai bagi pengguna jalan yang menginginkan pelayanan maksimal dari pemerintah,” katanya kepada Tribunjateng.com melalui sambungan telepon, Jumat (11/1/2019).

Terkait adanya rest area di sepanjang tol, yang fungsi aslinya dijadikan tempat istirahat bagi pengemudi. Pihanya menyarankan pihak pengelola menyediakan ruang istirahat tersebut.

“Seharusnya rest area tidak hanya disediakan sepanjang tol, tetapi juga disediakan di dekat exit tol. Untuk mengakomudir tempat istirahat bagi pengendara, selain pemerintah puasat, Pemda harus mendorong adanya rest area. Walaupun Jalan Tol Trans Jawa merupakan proyek pusat, tapi Pemda yang memberikan data dan pemecahan masalah yang ada di sekitar jalan bebas hambatan tersebut,” tuturnya.

Ditambahkannya, kecelakaan yang terjadi akibat dari laju kendaraan yang melebihi batas, ditambah dengan menimnya penerangan dan tidak adanya rest area.

“Pemalang-Batang merupakan titik lelah para pengemudi, jika sudah lelah para pengemudi mencari tempat beristirahat. Namun karena tidak ada, para pengendara memaksakan diri ditambah minimnya penerangan. Hal tersebut membahayakan bagi pengguna jalan. Harusnya setiap dua jam pengemudi harus istirahat, selain memulihkan stamina agar tetap fokus ban kendaraan juga harus didinginkan suapaya tidak pecah karena gesakan dangan jalan beton,” paparnya.

Menurutnya, tak jarang kecelakaan terjadinkarena pecah ban karena kendaraan melaju tanpa berhenti. Yang mengakibatkan ban panas dan tak kuat menahan tekanan.

“Memang harus dikaji kembali tentang kesiapan jalan bebas hambatan tersebut. Tol Trans Jawa bisa memang bisa memberi manfaat, namun juga akan merugiankan masyarakat jika tidak dikelola secara profesional,” imbuhnya.(*)

Penulis: budi susanto
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved