Temu Mini OMK 2019, Bupati Wihaji : Kegiatan Inspirasi dari Pertemuan Berbagai Agama

Komunitas Orang Muda Katolik (OMK) Sekeresidenan Pekalongan menggelar temu mini di Pondok Pesantren Darul Wiqiyah Desa Beji Kecamatan Tulis Batang

Temu Mini OMK 2019, Bupati Wihaji : Kegiatan Inspirasi dari Pertemuan Berbagai Agama
TRIBUN JATENG/DINA INDRIANI
Bupati Batang Wihaji saat memberikan sambutan dalam temu mini di Pondok Pesantren Darul Wiqiyah Desa Beji Kecamatan Tulis Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (13/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dina Indriani

TRIBUNJATENG.COM,BATANG - Komunitas Orang Muda Katolik (OMK) Sekeresidenan Pekalongan menggelar temu mini di Pondok Pesantren Darul Wiqiyah Desa Beji Kecamatan Tulis Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (13/1/2019).

Kegiatan yang digelar dalam satu tahun sekali ini mengambil tema Merajut Kebhinekaan, dan Menyusun Kebangsaan.

Dalam kegiatan tersebut, tidak hanya dihadiri anak-anak muda Khatolik tetapi juga para santri.

Bupati Batang Wihaji mengatakan kegiatan ini merupakan dialog awal antara anak-anak muda khatolik dengan santri sebagai generasi masa depan bangsa Indonesia.

"Kegiatan ini menjadi inspirasi dari pertemuan berbagai agama untuk menjadi komunikasi keagamaan. Sebagaimana kita harus rukun, saling menjaga meski berbeda keyakinan tetapi tetap satu untuk bangsa Indonesia," tutur Bupati Wihaji.

"Apalagi ini anak-anak muda, generasi milenial yang akan menjadi generasi masa depan bangsa,"lanjutnya.

Sekretaris Komisi Kerasulan Awam Waligereja Indonesia/KWI, Romo Paulus Christian Siswantoko mengatakan ciri khas OMK (Orang Muda Katolik) harus berani membuka diri dengan agama apapun.

"Apabila ada berita hoax atau yang bisa memecah belah agama yang harus kita lakukan adalah hapus berita tersebut atau blokir supaya kita bisa menjaga keharmonisan dalam perbedaan," ujarnya.

Sementara, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Batang (FKUB) Ahmad Subkhi menyampaikan,
Kelangsungan NKRI tercipta apabila bangsa Indonesia rukun, kerukunan bisa tercipta antara lain dengan toleransi menghargai,menghormati memberikan kebebasan untuk menjalankan agama.

"Harus adanya dialog karna dengan berdialog bisa memahami dan menghargai pemeluk umat beragama. Serta kerjasama yaitu tolong menolong yang didasari adanya toleransi sehingga apabila kita menolong orang lain jangan ditanya agamanya apa tetapi atas dasar sesama umat manusia dan warga indonesia," pungkasnya. (*)

Penulis: dina indriani
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved