Ngopi Pagi
FOKUS : Krisis Keteladanan
Di era digital saat ini, dunia maya seolah telah menjadi kiblat. Apapun yang tengah menjadi viral di dunia maya, maka akan ditiru
Oleh Rustam Aji
Wartawan Tribun Jateng
Di era digital saat ini, dunia maya seolah telah menjadi kiblat. Apapun yang tengah menjadi viral di dunia maya, maka akan ditiru. Karena itu, keberadaan figur di dunia nyata, sebaik apapun dia, tidak ada yang akan meniru ataupun memujinya sepanjang dia belum viral di dunia maya.
Lebih parahnya lagi, hal itu telah menjadi kebanggaan para generasi milenial, generasi yang tentunya akan memegang tongkat estafet kepemimpinan di negeri ini. Bahkan, tak jarang, para pemimpin di negeri ini, agar tak dianggap ketinggalan zaman –generasi old, ikut ambil bagian.
Tak berlebihan bila kemudian sangat susah saat ini untuk menemukan figur pemimpin yang layak untuk diteladani. Sebab, mereka tidak tampil apa adanya untuk melayani masyarakat tetapi sudah dipoles sedimikian rupa agar mudah mendapat simpatik publik. Dan, yang tak kalah penting lagi tentu agar bisa menjadi viral.
Krisis keteladanan bisa dilihat dari perilaku menyimpang yang terjadi dalam masyarakat belakangan. Nilai-nilai sadisme telah merebak menjadi konsumsi publik. Hal itu tidak hanya terlihat dari berbagai kasus pembunuhan yang terjadi, yang cenderung dilakukan dengan meninggalkan sisi-sisi kemanusiawian dan belas kasih.
Namun pada sisi lain, hal itu juga bisa dilihat dan dirasakan dari perilaku dan tutur kata kebanyakan masyarakat yang cenderung mudah tersinggung dan mengumpat, serta menyebar hoax. Dan, itu sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu.
Jelas perilaku tersebut jauh dari sikap-sikap yang diajarkan di bangku pendidikan yang mengandung pesan welas asih, untuk saling menyayangi dan menghormati antarsesama.
Tentu saja, hal itu sebenarnya tidak akan terjadi separah saat ini bila program revolusi mental yang diusung Joko Widodo (Jokowi) saat menjadi calon presiden pada Pilpres 2014, mampu diimplementasikan dengan baik oleh para stakeholder pemangku jabatan di negeri ini. Sebab, memang pada dasarnya, ada yang perlu diubah secara revolusioner dari perilaku kebanyakan pejabat maupun masyarakat untuk menuju Indonesia lebih baik dan maju.
Namun, hampir lima tahun setelah Jokowi yang berpasangan dengan JK terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden, entah apakah jargon revolusi mental telah banyak mengubah perilaku masyarakt atau tidak. Sebab, pada kenyataannya, masih banyak perilaku menyimpang yang dilakukan pejabat maupun masyarakat. Banyak pejabat yang tertangkap karena korupsi. Artinya nilai-nilai revolusi mental tak diimplemtasikan dengan baik.
Di sisi lain, banyak tindak kejahatan di masyarakat, justru dilakukan oleh anak-anak muda yang notabene generasi penerus bangsa ini.
Bahkan pada kasus yang tengah heboh menjadi perbincangan masyarakat adalah tertangkapnya sejumlah artis yang terlibat prostitusi online. Secara usia, mereka masih muda, dan digandrungi banyak remaja mengingat mereka adalah selebritas yang sering tampil di layar kaca. Meski ini bukanlah sebuah kasus pertama para artis yang terlibat prostitusi online yang diungkap oleh polisi, tetap saja ini mendapat atensi dari publik mengingat mereka adalah artis.
Terjadinya banyak tindak perilaku kejahatan dan prostitusi online yang rata-rata dilakukan oleh anak usia muda, semakin mengukuhkan bahwa saat ini memang tengah terjadi krisis keteladanan. Bisa jadi mereka tak menemukan figur yang layak untuk diteladani. Karena itu, pemerintah jangan hanya sibuk membangun infrastruktur sementara pembangunan mental terhadap generasi muda diabaikan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/rustam-aji-focus_20170804_071504.jpg)