FOKUS : Arjuna Ingin Mundur dari Medan Laga

ARKIAN, di tengah kecamuk Perang Agung Baratayuda, tiba-tiba Arjuna ingin mundur. Keinginan sang Lelananging Jagad itu tentu bakal menjadi persoalan

FOKUS : Arjuna Ingin Mundur dari Medan Laga
tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

Oleh Achiar M Permana
Wartawan Tribun Jateng

ARKIAN, di tengah kecamuk Perang Agung Baratayuda, tiba-tiba Arjuna ingin mundur. Keinginan sang Lelananging Jagad itu tentu bakal menjadi persoalan besar, mengingat saat itu dia tengah bertindak sebagai senapati agung. Kalau Arjuna benar-benar mundur, siapa yang bakal memimpin para prajurit Pandawa? Siapa pula yang bisa menandingi kehebatan Adipati Karna, senapati di pihak Kurawa?

Sebagai ksatria, tentu saja Arjuna tidak ingin tinggal glanggang colong playu, meninggalkan para prajurit yang bersedia bela pati demi menumpas angkara murka, yang termanifestasikan dalam sosok Kurawa. Namun banyak persoalan yang mengusik hatinya sehingga penengah Pandawa itu ingin mengundurkan diri.

Di medan laga, di Padang Kurusetra, dia menyaksikan sesama saudara baku bunuh demi kuasa. Dia melihat kakek yang sangat dia hormati, Resi Bisma, berdiri di barisan musuh. Juga Resi Drona, pancuran yang darinya ilmu-ilmu olah kanuragan, kadigdayan, dan kawicaksanan mengalir. Di medan laga itu, Pandawa dan Kurawa, yang tidak lain saudara sedarah beradu siasat. Untuk dua hal: membunuh atau dibunuh, menjadi pemenang atau pecundang.

Terlebih lagi, Baratayuda memaksanya berhadap-hadapan Karna, saudara serahimnya. Putra Kunti. Kurawa menunjuk Karna sebagai senapati perang, setelah Resi Drona tewas pada hari kelimabelas Baratayuda. Di Kurusetra, Sang Adipati Awangga bakal berhadap-hadapan dengan Arjuna. Kalau salah satu dari mereka menjemput pralaya, tentu saja Dewi Kunti--sang ibu--bakal merasakan kehilangan senyeri-nyerinya.

"O, Kresna, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya, dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering...," kata Arjuna, dengan hati pedih.

"Kita akan dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putra Drestarastra dan kawan-kawan kita. O, Kresna, apa keuntungannya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?"

Kresna, yang menjadi sais kereta perang Arjuna, tahu benar kebimbangan yang berkecamuk di hati iparnya itu. Ya, Arjuna tidak lain adalah suami Dewi Rara Ireng alias Dewi Sembadra, adik bungsu Kresna. Sebagai pengatur strategi cum penasihat Pandawa, Kresna merasa harus bertindak untuk membangkitkan semangat Arjuna. Kalau tidak, bisa-bisa skenario Baratayuda yang telah ditulis oleh Batara Panyarikan menjadi berantakan. Kalau Arjuna jadi mundur dari palagan, bisa-bisa perang agung itu akan berakhir dengan kemenangan Kurawa, ikon keserakahan.

Maka, di atas kereta terjadilah dialog antara Arjuna dan Kresna. Dalam pewayangan Jawa, dialog Arjuna dan Kresna itu terjadi sesaat sebelum perang melawan Karna, atau yang kerap disebut Karna Tanding.

Dialog-dialog itu, yang banyak berisi petuah-petuah Kresna untuk membangkitkan kembali semangat Arjuna, terekam dengan sangat indah dalam Kitab Bagawatgita. Secara harfiah, Bagawatgita atau dalam bahasa Sanskerta "Bhagavad-gita" adalah "Nyanyian Sri Bhagawan".

Halaman
12
Penulis: achiar m permana
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved