Rumah-rumah Tionghoa di Pesisir Utara Jawa Menghadap Sungai Membelakangi Bukit, Begini Alasannya

Rumah-rumah Tionghoa yang dibangun sebelum abad 19, terutama di kota-kota besar dan pesisir utara Pulau Jawa, biasanya berada di samping aliran sungai

Rumah-rumah Tionghoa di Pesisir Utara Jawa Menghadap Sungai Membelakangi Bukit, Begini Alasannya
TOTOK WIJAYANTO
Tembok bangunan rumah bergaya Tionghoa di Dasun, Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Senin (4/8), dikenal sebagai rumah candu. Saat zaman Hindia Belanda rumah itu digunakan sebagai tempat penyimpanan candu selundupan. 

TRIBUNJATENG.COM - Rumah-rumah Tionghoa yang dibangun sebelum abad ke-19, terutama di kota-kota besar dan pesisir utara Pulau Jawa, biasanya berada di samping aliran sungai.

Pada masa itu, aliran sungai dimanfaatkan sebagai jalur transportasi.

Menurut dosen Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Adrian Perkasa, konstruksi rumah mereka sama dengan yang pernah mereka tinggali di daerah asalnya.

Mereka memercayai kosmologi atau feng shui.

Selain itu, rumah yang dibangun juga harus membelakangi bukit yang melambangkan kura-kura hitam yang bersemayam.

Dalam kompleks permukiman ini, rumah ibadah atau kelenteng berada di sebelah selatan.

Tahlilan di Klenteng Tay Kak Sie Awali Kegiatan Pasar Imlek Semawis 2019 Semarang

Sementara untuk kompleks makam berada di daerah dataran tinggi atau perbukitan.

"Di Surabaya seperti di Kembang Jepun itu awalnya menghadap ke sungai. Terus kayak di Lasem semua pasti menghadap ke sungai. Sungai dianggap di mana burung merak yang berwarna merah," ujar Adrian kepada Kompas.com, Selasa (29/1/2019).

Sederet rumah tua di tepi Sungai Blandongan di kawasan Pecinan Glodok-Pancoran, Jakarta Barat, yang dihuni sejak tahun 1700-an, sejak beberapa tahun terakhir terbengkalai, Kamis (13/7/2019). Warga setempat berharap lingkungan fisik serta jejaring sosial dan ekonomi Pecinan Jakarta ini dan disebut-sebut lebih tua dari enklave serupa di Malaysia dan Singapura dapat dipulihkan menjadi living heritage untuk menarik wisatawan.
Sederet rumah tua di tepi Sungai Blandongan di kawasan Pecinan Glodok-Pancoran, Jakarta Barat, yang dihuni sejak tahun 1700-an, sejak beberapa tahun terakhir terbengkalai, Kamis (13/7). Warga setempat berharap lingkungan fisik serta jejaring sosial dan ekonomi Pecinan Jakarta ini dan disebut-sebut lebih tua dari enklave serupa di Malaysia dan Singapura dapat dipulihkan menjadi living heritage untuk menarik wisatawan. (Santosa, Iwan)

Setelah abad ke-19 atau sesudah dibangunnya jalan raya Daendels, banyak permukiman dan rumah ibadah mulai berubah menjadikan jalan raya sebagai poros.

Selain permukiman, perubahan juga terjadi pada letak makam Tionghoa.

Usai Sembahyang Sang Sin, Umat Tridharma Semarang Bersihkan Arca Jelang Tahun Baru Imlek

Menurut Adrian, perubahan arah rumah terjadi karena jalan mulai digunakan sebagai infrastruktur utama.

Sebelumnya, masyarakat memanfaatkan aliran sungai sebagai alat transportasi.

"Mereka kan menguasai dan banyak bekerja di bidang ekonomi, vital sekali peran infrastruktur," ujar Adrian.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Permukiman Tionghoa Harus Membelakangi Bukit"

Editor: suharno
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved