Pengamat: Hoax Gerogoti Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf, TKN Harus Kreatif

Testimoni masyarakat ini, dinilai Emrus, bisa menjadi sarana untuk melawan hoax tentang ketidakberhasilan pembangunan

Pengamat: Hoax Gerogoti Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf, TKN Harus Kreatif
KOMPAS.com/GARRY ANDREW
Calon Presiden dan Wakil Presiden, Joko Widodo dan Maruf Amin tiba untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (12/8/2018). Selain pasangan Jokowi-Maruf Amin, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno juga akan menjalani pemeriksaan kesehatan pada hari Senin 13 Agustus. Pemeriksaan kesehatan tersebut merupakan satu diantara syarat wajib yang diberlakukan KPU bagi capres dan cawapres untuk mengikuti Pilpres mendatang. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Yayan Isro' Roziki

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, mennyatakan tingkat kepuasan masyarakat Indonesia terhadap kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih mencapai angka 70 persen. Kendati demikian, tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi tidak berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan (elektabilitas) Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019.

Merujuk sejumlah hasil survei, pasangan nomor urut 01 ini hanya berada di angkat 52-54 persen.‎ Pengamat komunikas politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing, mengatakan hoax sebagai salah satu faktor yang terus menggerogoti elektabilitas pasangan calon presiden - wakil presiden, Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

"Secara hipotesis iya, itu sangat berpengaruh. Masyarakat termakan oleh hoax yang tersebar secara luas dan massif. Karena itu harus dilawan dengan fakta, data, yang didesain secara kreatif," kata Emrus‎, dalam keterangan tertulis, Selasa (29/1) petang.

‎Menurut dia, persoalan ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar tim kampanye Jokowi-Ma’ruf. Dia menegaskan, tim sukses dan partai pendukung harus mampu membendung hoax secara kreatif dan terukur, bukan sebatas mengcounter informasi-informasi hoax yang beredar untuk menjatuhkan Jokowi.

"Harus membangun isu sendiri secara massif. Sudah seharusnya menjadi leading sector di bidang isu, tidak terlalu sering, apalagi terus bermain di tabuhan genderang lawan," tegas Emrus.

Di samping itu, sambungnya, ‎hal lain yang harus dilakukan adalah bekerja lebih keras lagi meyakinkan publik sehingga kampanye mengarah kepada perilaku memilih, tidak hanya menyukai kinerja pemerintahan Jokowi di lima tahun belakangan.

"Tim kampanye termasuk partai-partai pengusung, harus lebih keras bekerja. Jika perlu, masyarakat sendiri yang menyampaikan testimoni keberhasilan Jokowi. Tidak hanya tim kampanye yang menyampaikan, agar tak hanya dianggap sebagai klaim semata," sambungnya.

Ia menekankan, pesan kampanye yang disampaikan harus berefek pada voting behavior. TKN dan parati pengusung harus lebih agresif lagi menjelaskan keberhasilan pembangunan di masa pemerintahan Jokowi secara terukur.

"Desain komunikasi harus dibuat lebih rasional," jelasnya.

Dia mencontohkan di bidang infrastruktur, tim kampanye bisa menggunakan testimoni masyarakat yang secara langsung menerima manfaat ekonomi, maupun non-ekonomi dari adanya jalan tol, bandara atau pembangunan lain.

Testimoni masyarakat ini, dinilai Emrus, bisa menjadi sarana untuk melawan hoax tentang ketidakberhasilan pembangunan.

"Andai kata dibuat testimoni itu, bisa enggak orang jadi tidak percaya dengan hoax, misalnya bisa aja lu ngomong begitu, buktinya itu berhasil. Artinya hoax dilawan dengan testimoni atau ada desain komunikasi lain yang menarik," pungkasnya.

‎Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, mennyatakan tingkat kepuasan masyarakat Indonesia terhadap kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini masih mencapai angka 70 persen. Meski fluktuatif, menurut survei LSI, tingkat kepuasan terhadap Jokowi tidak pernah sampai berada di bawah 60 persen.

Disebutkan, kepuasaan tertinggi berada di bulan Agustus 2018, yang mencapai 75 persen lalu turun ke angka 70,7 persen di bulan September di tahun yaang sama. (*)

Penulis: yayan isro roziki
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved