Ada Wajah 'Jokowi' di Lukisan Pangeran Diponegoro Muda Dipajang di Jogja Gallery, Ini Kata Pelukis

Ada wajah “Jokowi” di lukisan figur Abdurohim alias Diponegoro saat berusia 20 tahun ini. Pelukisnya Sigit Santoso, seniman lulusan ISI Yogyakarta

Ada Wajah 'Jokowi' di Lukisan Pangeran Diponegoro Muda Dipajang di Jogja Gallery, Ini Kata Pelukis
ISTIMEWA
Lukisan karya Sigit Santoso menggambarkan sosok Diponegoro muda dalam wajah muda, dipamerkan di Jogja Gallery, Jumat (1/2/2019) 

Saat itu ia sama sekali belum mulai menggoreskan kuas dan cat. “Kanvasnya itu juga baru datang,” imbuhnya sembari terkekeh.

Sigit agaknya termasuk seniman paling akhir yang menyetorkan karyanya ke panitia pameran. “Saya kirimkan Kamis siang,” kabarnya pada Tribunjogja.com, Rabu (30/1/2019) malam.

Meski sudah disiapkan sejak Agustus 2018, Sigit mengaku sangat lama bergumul dengan proses karyanya. Meski sudah disediakan teks berdasar babad yang ditulis Diponegoro, tidak mudah memvisualisasikan dalam gambar.

Masalah besarnya, tidak pernah ada data sketsa, drawing, apalagi foto yang bisa menunjukkan wajah Diponegoro saat usia 20 tahun. Ini membuat intrepretasi, tafsir wajah muda Diponegoro menjadi sangat relatif.

“Pernah terlintas di ide, saya ingin menggambarkannya serupa sosok-sosok santri zaman now, zaman milenial yang rambutnya gondrong. Kontemporer pokoknya,” jelas teman sekolah penyair Wiji Thukul yang raib pada masa gejolak reformasi 97/98.

Namun gagasan itu berubah. Sigit memilih untuk menyesuaikan penggambaran dengan situasi politik terkini, meski ia tidak bermaksud menempatkan karyanya sebagai produk  politik. “Tafsir terserah ke penonton,” katanya.

Lukisan karya Sigit Santoso menggambarkan sosok Diponegoro muda dalam wajah muda, dipamerkan di Jogja Gallery, Jumat (1/2/2019)
Lukisan karya Sigit Santoso menggambarkan sosok Diponegoro muda dalam wajah muda, dipamerkan di Jogja Gallery, Jumat (1/2/2019) ((Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo))

Setelah bergelut lama dengan ide-idenya, dan banyak berdiskusi dengan kurator pameran, Dr Mikke Susanto, akhirnya tercapai kesesuaian. “Saya kemudian membuat desain menggunakan komputer,” lanjutnya.

Hal lain di luar penggambaran wajah yang memerlukan diskusi panjang, Sigit juga menghadapi tantangan tentang penggambaran keris yang identik dengan Diponegoro. “Apakah santri dulu selalu bawa keris?” gugatnya.

“Bagaimana letak penempatan keris jika memang dibawa? Di depan atau belakang?” lanjut Sigit yang kemudian memilih tetap untuk memvisualisasikan sang figur itu menggenggam warangka keris yang terselip di perutnya.

Teks babad dari kurator dan penyelenggara pameran yang diberikan ke Sigit Santoso, baginya sebagai seniman, terasa menyulitkan dan membatasi. Tapi ia harus berkompromi.

Halaman
123
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved