Kue Keranjang, Kudapan Khas saat Imlek Mengandung Makna Merekatkan Kekerabatan

Kue keranjang menjadi kudapan khas saat tahun batu Imlek datang. Penganan yang memiliki tekstur kenyal dan rasanya yang manis

Kue Keranjang, Kudapan Khas saat Imlek Mengandung Makna Merekatkan Kekerabatan
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Sejumlah pembeli tengah memilih kue keranjang di Toko Roti Panjunan Kudus, Minggu (3/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Kue keranjang menjadi kudapan khas saat tahun batu Imlek datang. Penganan yang memiliki tekstur kenyal dan rasanya yang manis itu menjadi buruan warga Tionghoa.

Di Kudus, salah satu toko yang menjajakan yaitu Toko Roti Panjunan di Jalan Wahid Hasyim Nomor 40, Desa Panjunan, Kecamatan Kota Kudus. Di toko ini, berbagai macam kue keranjang dijajakan. Rasanya bervariasi, ada rasa original, vanili, cokelat, dan pandan.

Minggu (3/2/2019), lalu-lalang pembeli menyisir setiap sudut toko. Mereka memilah di antara tumpukan kue keranjang yang tertapa rapi di etalase.

Salah satu pembeli, Linawati (45) mengatakan, dia terbiasa datang ke toko ini hanya untuk membeli kue keranjang saat jelang Imlek. Selanjutnya, kue tersebut akan dibagikan kepada tetangga serta kerabat dekatnya.

"Saya sudah langganan beli kue keranjang di sini. Kemudian, saya bagi-bagikan ke tetangga," kata perempuan yang tinggal di Perumahan Kudus Permai.

Alasannya memilih toko itu menjadi jujukan lantaran banyak varian rasa yang bisa dipilih. Olehnya, dia bisa leluasa memilih untuk kudapan sendiri dan dibagikan tetangga.

Tepat di belakang toko, kesibukan para pekerja pembuat kue keranjang sangat terasa. Ada sekitar tiga orang pekerja. Tugas mereka berbeda. Ada yang membuat adonan, ada yang bertugas memasukkan adonan ke dalam cetakan, selanjutnya ada pula yang bertugas mengukus kue pada enam tungku besar.

Pemilik toko, Trisnawati (65) mengatakan, saat seperti inilah pesanan kue keranjang membanjirinya sejak sepekan yang lalu. Mendekati Imlek, permintaan justru semakin berdatangan. Tidak hanya dari Kudus, tapi dari berbagai daerah di sekitarnya, misalnya Jepara, Pati, dan Kota Semarang.

"Saat ramai seperti ini, bahan baku yang dihabiskan per hari sampai 2 kuintal terdiri dari tepung ketan dan gula pasir. Para pekerja juga sampai lembur," kata Trisnawati.

Setelah kue keranjang selesai proses pembuatannya dari dapur, langsung dipajang di etalase toko. Selain varian rasa, Trisnawati juga membuat berbagai varian kemasan. Untuk kemasan satu paket kecil berisi 4 biji harganya Rp 17 ribu. Untuk kemasan berisi 6 biji dihargai Rp 25 ribu. Ada juga kemasan setengah kilogram yang harganya Rp 19 ribu, kemasan 1 kilogram Rp 38 ribu.

Perempuan yang merupakan generasi kedua penerus usaha toko roti ini membeberkan kenapa kue keranjang selalu menjadi buruan warga Tionghoa saat Imlek. Alasannya, kue dengan tekstur kenyal dan lengket itu memiliki makna agar kekerabatan tetap rekat terjalin. Maka saat Imlek, sebagian besar warga Tionghoa membagikan kue keranjang kepada tetangga atau kerabat dekat.

"Harapannya agar kekerabatan dan persaudaran terus lengket," tuturnya.

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved