Ketua Umum PP Muhammadiyah: Diharapkan Debat Kedua Pilpres 2019 Lebih Rileks dan Akrab

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir berharap debat kedua Pilpres 2019 bisa berjalan lebih rileks dan akrab.

Ketua Umum PP Muhammadiyah: Diharapkan Debat Kedua Pilpres 2019 Lebih Rileks dan Akrab
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meresmikan Gedung KH Ahmad Dahlan di Pondok Pesantren Muhammadiyah Singocandi, Kudus, Minggu (10/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir berharap debat kedua Pilpres 2019 bisa berjalan lebih rileks dan akrab.

Hal itu disampaikannya seusai peresmian Gedung KH Ahmad Dahlan di Pondok Pesantren Muhammadiyah, Desa Singocandi, Kecamatan Kota Kudus, Minggu (10/2/2019).

Debat yang akan digelar pada Minggu (17/2/2019) itu, kata Haedar, masing-masing pasangan calon bisa menjelaskan program kerja yang akan dilakukan selama 5 tahun ke depan.

Hal itu berkaitan dengan problem yang dihadapi bangsa ini.

Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sayangkan Ada Kader Deklarasi Dukung Capres

“Dan tidak kalah pentingnya masing-masing menjelaskan Indonesia 5 tahun ke depan, mau dibawa ke mana, seperti apa, bagaimana caranya. Agar betul-betul bangsa kita punya kepastian tentang masa depannya,” katanya.

Kemudian, Haedar menitip pesan, kepada masing-masing pasangan calon agar memiliki visi strategis sekaligus juga model problem solving yang bisa memecahkan masalah bangsa dari hulu sampai hilir.

Misalnya masalah kemiskinan, kesenjangan, kebhinekaan, serta sumber daya alam dan manusia.

Kemudian, agar tercipta suasana yang lebih sejuk, Haedar berharap kepada setiap pasangan calon mengajak pendukungnya untuk mengedepankan kebersamaan dan persaudaraan.

Bukan dengan suasana saling merendahkan, menegasikan, apalagi sampai saling menghujat dan menebar suasana permusuhan.

Karena sudah berapa kali Pemilu baik Pilpres maupun Pileg, katanya, maka tentu elit pendukung dan tim sukses harus semakin matang dan dewasa.

“Menciptakan suasana bagus juga dari  masing-masing calon untuk mengimbau, mengajak dan menciptakan suasana bagi para pendukungnya agar tetap dalam keberbedaan pilihan politik itu mengedepankan kebersamaan, persaudaraan dan rayakan berbedaan itu dengan kegembiraan,” katanya.

Korban Penusukan di Boom Lama Semarang Ternyata Pelajar SMK Muhammadiyah Candisari

Namun, yang terjadi saat ini justru tensi politik semkain panas.

Oleh Haedar, dia mengajak kepada kekuatan penyeimbang, kekuatan ormas dan civil society untuk menjadi kekuatan mediator, menjadi kekuatan peredam sekaligus juga mencipatakan suasana lebih rileks dalam politik.

“Tensi tinggi itu kan terjadi karena proses dramatisasi politikn oleh siapa pun yang mencipatakan suasana bahwa Indonesia gawat darurat. Coba, kalau ingin mengungkap ada masalah, ungkaplah masalah itu dengan argumentasi yang kuat, kemudian terbuka untuk dialog untuk saling mempersoalkan argumen masing-masing dan tidak harus saling menjatuhkan. Tensi tinggi itu terjadi karena ada pihak-pihak atau siapa pun yang mendramatisasi keadaan,” katanya. (*)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved