Musim Hujan, Perajin Genting di Jepara Terhambat Produksi

Perajin genting di Kabupetan Jepara mengalami hambatan dalam produksi saat musim hujan.

Musim Hujan, Perajin Genting di Jepara Terhambat Produksi
rifqi gozali
Seorang perajin genting, Suhari, di Desa Jatisari, Kecamatan Nalumsari, Jepara saat menata genting buatanya setelah melalui proses pencetakan, Selasa (12/2/209). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA – Perajin genting di Kabupetan Jepara mengalami hambatan dalam produksi saat musim hujan. Sebab, dalam proses pembuatan genting, dibutuhkan panas matahari untuk pengeringan.

Sentra pembuatan genting di Kabupaten Jepara salah satunya yaitu di Desa Jatisari, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara. Di antara perajinnya yaitu Suhari. Dia membutuhkan waktu sampai berhari-hari untuk mengeringkan genting produksinya. Padahal, saat cuaca terik, hanya butuh sehari genting buatannya sudah kering.

“Genting setelah dicetak langsung dikeringkan. Kalau saat ini bisa mencapai tiga hari pengeringannya. Sementara kalau pas waktu panas, sehari sudah kering,” kata Suhari saat ditemui di lokasi pembuatan genting miliknya.

Setelah melewati proses pengeringan, genting berbahan tanah liat akan dibakar. Berhubung cuaca tidak mendukung, maka dia tidak bisa membakar genting untuk kemudian dijual.

“Biasanya kalau sekali bakar sebanyak 8.500 buah genting. Itu dilakukan 15 hari sekali, karena ini panasnya kurang, genting tidak bisa langsung kering, jadi pembakarannya munduru. Atau bahkan tidak bakar sama sekali, seperti saat ini,” katanya.

Masih di desa yang sama, perajin genting lainnya, Jupri Edi mengalami hal senada. Namun dia masih memproduksi genting, meski proses pembakarannya tertunda akibat cuaca.

Di sisi lain, musim hujan kali ini rupanya semakin tidak bersahabat bagi perajin genting. Saat musim hujan sebelumnya, harga genting selalu mengalami lonjakan. Namun, kini harga per 1.000 genting hanya berada di kisaran Rp 700 ribu. Padahal pada musim sebelumnya bisa tembus Rp 1 juta per 1.000 genting.

“Harganya mulai turun sejak Oktober 2018,” kata Jupri.

Untuk bahan baku tanah liat, katanya, para perajin biasa mendatangkan dari Klumpit Kudus. Hanya bahan bakulah yang bersahabat, sebab belum ada kenaikan harga.

“Satu truk dam tanah bahan baku buat genting masih di kisaran harga Rp 260 ribu. Itu paling bisa jadi 1.000 gentig,” katanya. (*)
  


Penulis: Rifqi Gozali
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved