OPINI AKHMAD SAEFUDIN : Jateng dan Prospek Budidaya Udang

Tujuan ekspor udang tahun 2018, menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), terbesar adalah ke Amerika Serikat (66℅)

OPINI AKHMAD SAEFUDIN :  Jateng dan Prospek Budidaya Udang
Tribun Jateng
AKHMAD SAEFUDIN 

Oleh AKHMAD SAEFUDIN SS ME

Alumnus Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP) UI Jakarta, tinggal di Purwokerto

TRIBUNJATENG.COM -- Tujuan ekspor udang tahun 2018, menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), terbesar adalah ke Amerika Serikat (66℅) dan Jepang (19%). Adapun Belanda, China, Malaysia, dan lainnya masing-masing berkisar antara 1-2 persen dari total ekspor.

Hingga tahun 2021, pemerintah menargetkan peningkatan ekspor udang 1 miliar dollar AS . Untuk mengejar target itu, setidaknya butuh tambahan produksi 150.000 ton. Namun, kenaikan produksi ditaksir hanya 100.000 ton, antara lain disebabkan terbatasnya luasan tambak (Kompas, 11/02/2019).

Betapapun, target peningkatan ekspor udang perlu ditopang produksi. Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia, Budhi Wibowo, industri pengolahan udang butuh bahan baku udang beku sekitar 500.000 ton per tahun. Sementara bahan baku yang masuk diperkarakan hanya 350.000 ton per tahun.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (BRSDM-KKP), Sjarief Widjaja, mengatakan bahwa saat ini produksi udang belum memberikan dampak terhadap pembudidaya skala kecil, karena sebagian besar masih dikuasai oleh petambak bermodal besar. Oleh karena itu, KKP mendorong pengembangkan budidaya udang Vaname skala kecil dengan teknologi mikrobuble ultra intensif (Tempo, 26/12/2018).

Lokasi budidaya yang jauh dari sumber air laut atau payau juga menjadi tersendiri. “Untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan rekayasa teknologi akuakultur yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, di antaranya dengan pengembangan Teknologi Microbubble yang terintegrasi Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk budidaya udang Vaname," kata Syarif.

Beberapa kendala yang dihadapi pembudidaya udang di tambak tingginya biaya listrik dan kebutuhan modal yang cukup besar. Kaendala lainnnya adalah adanya limbah yang tak terkelola dengan baik, ancaman serangan penyakit, serta daya dukung lingkungan yang menurun.

Penerapan Teknologi Microbubble yang terintegrasi RAS dapat menjadi solusi alternatif untuk budidaya skala rumah tangga. Pasalnya, dengan cara ini luasan lahan per meter kubik dapat mengembangkan sekitar 1.000 ekor udang vaname. Konon, sebelum ditemukan teknologi baru tersebut budidaya udang Vaname tertinggi pada budidaya supra intensif hanya sekitar 400 ekor per kubik.

Selain itu, teknologi microbubble dengan integrasi RAS ini memiliki benerapa kelebihan. Antara lain bisa diterapkan di lingkungan yang jauh dari sumber air laut, tidak ada air limbah perikanan yang dibuang ke lingkungan, serta tak memerlukan proses penyifonan (pembuangan limbah sisa pakan dan kotoran udang). Pasalnya, limbah padatan pada sistem ini tertangkap di filter fisik, yang selanjutnya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved