FOKUS : Belajar Kasih Sayang ke Nur Khalim

Pekan ini kita disuguhi berita-berita kekerasan dari dunia pendidikan. Mulai pengeroyokan hingga penghinaan kepada guru.

FOKUS : Belajar Kasih Sayang ke Nur Khalim
tribunjateng/bram
Muslimah wartawan tribunjateng.com 

Oleh Muslimah

Wartawan Tribun Jateng

Pekan ini kita disuguhi berita-berita kekerasan dari dunia pendidikan. Mulai pengeroyokan hingga penghinaan kepada guru. Sangat miris karena peristiwa itu ada yang justru melibatkan orangtua siswa yaitu dalam kasus pengeroyokan di SMP Negeri 2 Galesong, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Kasus ini berawal cekcok antara pegawai honorer dengan seorang siswa yang berujung pegawai memukul siswa tersebut. Siswa yang tak terima pulang dan melapor pada orangtua. Lalu ia dan orangtuanya dan dibantu tiga siswa lain mengeroyok tenaga honorer. Akibatnya, tenaga honorer mengalami luka di kepala dan empat murid yang mengeroyoknya dikeluarkan dari sekolah.

Kasus yang sangat viral terjadi di SMP PGRI Wringinanom, Gresik. Seorang guru honorer, Nur Khalim, dihina di depan kelas oleh siswa yang ia tegur karena mau membolos. Tak terima, siswa tersebut memilih jalan 'kekerasan'. Nur Khalim ditantang duel, dimaki, ditarik kerah bajunya hingga dipegang kepalanya.

Kasus ini berakhir damai. Siswa meminta maaf dan Nur Khalim memilih berlapang dada.

Di Jateng, sejak akhir Januari 2019, setidaknya juga ada dua kasus kekerasan dari dunia pendidikan yang menjadi pemberitaan luas. Januari lalu, seorang siswa di Tegal, Dimas Nur Afandi, meninggal dunia karena luka bacok.

Sementara dua rekannya luka-luka setelah mereka terlibat bentrok dengan pelajar yang lain.

Di pekalongan, seorang pelajar SMP dianiaya kakak kelasnya selama dua jam hingga pingsan dan mengalami trauma.

Jika terus melihat ke belakang, kekerasan di dunia pendidikan memang seakan tak ada habisnya jadi bahan perbincangan. Senin, (11/2), Lembaga Pendidikan dan Latihan (Kalemdiklat) memberhentikan 13 taruna Akademi Kepolisian (Akpol) bermasalah karena terlibat kasus penganiayaan yang menyebabkan tewasnya taruna tingkat II atas nama Muhammad Adam pada 18 Mei 2017 lalu. Kasus tewasnya taruna Akpol ini juga pernah menjadi pemberitaan heboh.

Miris, karena dunia pendidikan sejatinya merupakan wahana mencetak generasi muda menjadi pribadi yang lebih baik. Di tangan merekalah kelak nasib bangsa dan negara ini berada. Biasanya, setelah kekerasan terjadi, semua pihak akan saling introspeksi, mencari sebab, apa sebenarnya yang salah?

Marilah kita belajar sedikit ke Finlandia, negara yang sistem pendidikannya disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Di sana, untuk mengatasi dan meredam kasus kekerasan, dijalankan program Kiva Antibullying. Dalam program ini, siswa diajari cara berempati dan perduli. Sebagai misal jika ada teman yang kesulitan ekonomi, maka rekan-rekannya yang lain akan memberi bantuan.

Dunia pendidikan tidak memerlukan kekerasan melainkan lebih banyak kasih sayang dan empati. Seperti yang dilakukan Nur Khalim yang memilih tak membalas balik dengan kekerasan saat dihina siswanya. Guru yang akrab disapa Pak Alim ini juga menolak saat diminta mengisi acara program TV hingga berbagai hadiah lain.

Sungguh mulia karena pertimbanggannya antara lain ia juga harus menjaga perasaan siswa yang telah menghinanya. Pak Alim tak mau mengambil keuntungan dari 'penderitaan' yang pernah dialaminya. Ia hanya ingin mejadi seorang pendidik. (*)

Penulis: muslimah
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved