Sembahyangan King Thie Kong di Sam Poo Kong Semarang

Sembahyangan King Thie Kong atau sembahyang Tuhan Allah dilakukan pada tanggal 6 penanggalan Imlek atau hari ke 8 setelah Imlek.

Sembahyangan King Thie Kong di Sam Poo Kong Semarang
IST
Kelenteng Agung Sam Poo Kong kembali mengadakan rangkaian Imlek 2570 yaitu Sembahyangan King Thie Kong yang jatuh pada tanggal 12 Februrari 2019. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kelenteng Agung Sam Poo Kong kembali mengadakan rangkaian Imlek 2570 yaitu Sembahyangan King Thie Kong yang jatuh pada tanggal 12 Februrari 2019.

Sembahyangan King Thie Kong atau sembahyang Tuhan Allah dilakukan pada tanggal 6 penanggalan Imlek atau hari ke 8 setelah Imlek.

Sembahyangan King Thie kong dipercaya masyarakat Tionghoa bertujuan untuk menghormati Giok Hong Siang Tee yang diartikan sebagai Dewata Tertinggi atau Thie Kong.

Selain itu, sembahyangan ini juga sebagai rasa terima kasih atas berkah serta perlindungannya pada tahun yang baru saja lewat.

“Setiap tahun kelenteng-kelenteng pasti mengadakan Sembahyangan King Thie Kong, termasuk Kelenteng Agung Sam Poo Kong. Sembahyangan ini dilakukan pada malam hari dari jam 12 malam sampai jam 2 pagi dan persiapan sembahyangannya jam 10 malam. Sembahyangan ini dibuka untuk umum atau masyrakat Tionghoa yang ingin mengikuti sembahyangan,” ujar Chandra Budi A selaku Ketua Yayasan Kelenteng Agung Sam Poo Kong.

Pada siang hari terlihat petugas sibuk menata meja tingginya melebihi kepala manusia yang bertujuan untuk mengagungkan Thie Kong.

Setelah meja terpasang, meja tersebut diberi taplak merah dan dihias dengan lilin.

Di atas meja tersebut disusun sesajian yang berisikan 5 macam kue manis seperti kue wajik dan kue ku yang melambangkan kemakmuran, kebahagiaan, panjang umur, kesehatan dan ketentraman.

Selain 5 macam kue manis, terdapat juga 2 batang tebu yang melambangkan kerukunan, kesuburan, keharmonisan, hidup manis dan utuh.

Tidak hanya berisikan 5 kue manis dan 2 batang tebu, sesaji yang disiapkan juga berisikan 5 macam buah sebagai hasil berbagai musim, 5 macam bunga yang melambangkan keharuman, dan 5 macam sayur kering.

Selain sesaji, hio atau dupa juga menjadi hal wajib yang ada ketika Sembahyangan King Thie Kong.

Pada pagi hari, masyarakat Tionghoa biasanya menjadi seorang vegetarian atau tidak makan daging.

Menjadi vegetarian atau tidak makan daging merupakan syarat, karena dahulu para warga yang bersembunyi ke kebun tebu itu sama sekali tidak mengonsumsi daging. (*)

Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved