Ketika Dalang Jepang Pukau Warga Purbalingga saat Pentaskan Wayang

Seni wayang kulit kurang lebih bernasib sama dengan kesenian tradisional warisan bangsa. Seni itu mulai banyak dilupakan

Ketika Dalang Jepang Pukau Warga Purbalingga saat Pentaskan Wayang
Istimewa
Dalang Jepang mentas wayang di Pendopo Rumah Dinas Bupati Purbalingga. 

TRIBUNJATENG.COM -- Seni wayang kulit kurang lebih bernasib sama dengan kesenian tradisional warisan bangsa. Seni itu mulai banyak dilupakan, terutama generasi muda Indonesia.

Pagelaran wayang kulit tak lagi dianggap menarik, kecuali kalangan tertentu yang masih menyukai dan menghargai budaya asli nusantara.

Siapa sangka, wayang kulit justru mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat internasional. Bukan hanya pengakuan resmi dari UNESCO, wayang kulit pun mampu mengambil hati masyarakat dunia. Kalau tidak, mustahil Misaki Kishi, warga asal Jepang mau jauh-jauh ke Indonesia demi mempelajari kesenian itu.

Tak tanggung-tanggung, ia membuktikan keseriusannya itu dengan menenpuh studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta jurusan Pedalangan. Jurusan itu tentu cocok bagi dia yang haus akan pengetahuan pewayangan.

Bukan sekadar tahu, ketekunannya mempelajari kesenian itu membuat dia piawai memainkan wayang sebagai dalang. Pagelaran seni wayang kulit di Pendapa Dipokusumo, Senin (18/3) adalah pembuktian atas penjiwaanya terhadap seni yang dia geluti.

Dalang berkewarganegaraan asing itu bahkan mampu membuat kagum masyarakat pribumi yang mewarisi langsung budaya leluhur itu. "Saya suka wayang sejak empat tahun lalu. Dan sejak saat itu saya ingin mempelajari wayang lebih dalam," kata Misaki.

Keseriusannya menekuni seni wayang bukan tanpa alasan. Ia mengaku jatuh cinta pada kesenian itu pada pandangan pertama. Pertama kali melihat pagelaran wayang di negaranya, empat tahun lalu, ia langsung suka.
Meskipun, saat itu ia sama sekali tidak memahami bahasa yang dibawakan sang dalang. Sejak saat itu, dia berminat dan berniat untuk mempelajari wayang.

Untuk membuktikan kecintaanya itu, dia tak jarang menonton pagelaran wayang kulit hingga semalam suntuk. Dia pun berharap cepat beradaptasi dengan kehidupan orang Indonesia, terutama dalam hal bahasa.

"Saya senang nonton wayang kulit sampai pagi. Semoga saya cepat beradaptasi di sini," imbuhnya.

Tak hanya Misaki, kebanggan mempelajari budaya Jawa juga ditunjukkan Leon, seorang mahasiswa asal Meksiko yang juga menimba ilmu di ISI Surakarta. Leon mengaku mengenal musik gamelan sejak 2004 lalu di negaranya.
Ia pun langsung tertarik mempelajari seni musik tradisional itu. Sayang, di negaranya, ia mengalami kendala soal keterbatasan pengajar. Karena keinginannya yang kuat, ia memutuskan belajar alat musik Jawa tersebut di negara yang memproduksi budaya itu langsung, Indonesia.

"Saya sudah lama suka gamelan Jawa. Tapi karena di Meksiko guru gamelannya terbatas, saya putuskan untuk ke Indonesia," katanya (khoirul muzakki)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved