Memberi Penyuluhan Dengan Mengunjungi Rumah Warga

Dia juga menjadi orang yang dicari-cari oleh wanita berbadan dua di Desa Sambiyan, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Memberi Penyuluhan Dengan Mengunjungi Rumah Warga
IST
Nanik Hariyani Bidan Rembang 

TRIBUNJATENG.COM, REMBANG -  Profesi bidan merupakan profesi yang mulia. Bagaimana tidak, hari-hari kerap diisi dengan persalinan ibu hamil. Sebagai tenaga profesional yang bermitra dengan kaum hawa, bidan rupanya tidak hanya membantu persalinan, tetapi bidan pun juga memberi dukungan, asuhan, nasihat untuk ibu hamil hingga melahirkan. Bahkan, peran Bidan lebih dari sekedar sampai melahirkan saja, tetapi setelah melahirkan pun masih berperan dalam tumbuh kembang anaknya.

Salah satu yang menekuni itu, sebut saja Nanik Hariyani. Bidan berusia 45 tahun itu, sehari-hari tidak lepas dari tugasnya sebagai orang yang menangani proses persalinan. Dia juga menjadi orang yang dicari-cari oleh wanita berbadan dua di Desa Sambiyan, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Nanik telah menjadi seorang bidan sejak tahun 1995. Ketika itu statusnya sebagai bidan pegawai tidak tetap (PTT). "Saya diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sebagai bidan pada tahun 2006 di bawah Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang. Sejak pertama saya sudah tugas di Desa Sambiyan, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang. Saat itu bidan masih sangat jarang, di Kaliori saya diminta oleh pak Camat untuk langsung tugas di Desa Sambiyan," ujar Nanik.

Nanik memilih menjadi bidan karena ingin menolong sesama. Wanita lulusan Sekolah Keperawatan Blora ini juga memiliki pengalaman dalam hidupnya yang tak terlupakan sejak pertama kali menjadi bidan. Awalnya Nanik bertugas di Desa Sambiyan dan harus memberi penyuluhan kepada setiap ibu hamil. Saat itu, ia sudah berkomitmen tidak pulang ke Pati sebelum berkunjung keliling ke semua ibu hamil bersama kepala desa waktu itu.

Saat itu, ia berkeliling desa menggunakan lampu senter bersama kepala desa untuk memberikan nasihat terkait kehamilan. Selanjutnya saat melahirkan, mereka akan memanggil saya. Waktu itu, masyarakat belum sepenuhnya memakai jasa bidan, dikarenakan beberapa masih dibantu oleh dukun bayi. "Kalau melahirkan saya tetap dipanggil untuk membantunya, sedangkan nanti saat sudah lahir, dukun bayi yang memandikan bayinya," ujar Nanik.

Nanik bersyukur, kala itu tanggapan warga desa positif, mereka mendukung sepenuhnya sejak awal bertugas di desa dan tidak ada penolakan. "Saya selalu dilibatkan baik untuk sekedar konsultasi kehamilan atau untuk membantu persalinan. Setiap ibu hamil di Desa Sambiyan selalu memeriksakan secara rutin dan mereka selalu konsultasi ke saya sebagai bidan desa," ujar Nanik.

Upaya dalam memantau perkembangan ibu hamil, saat dirinya pertama bertugas di desa dengan mendatangi ke rumah-rumah ibu hamil. "Pada tahun 2006 saya mulai buka praktik di rumah, mereka yang datang ke rumah saya. Saya beri penyuluhan agar ibu hamil selalu memenuhi nutrisi agar janin yang dikandungnya sehat. Atau, kalau ada ibu hamil yang berisiko tinggi maka akan rutin saya kunjungi dan saya himbau untuk di periksa ke dokter kandungan. Ibu hamil berisiko tinggi itu misalnya, ibu hamil memiliki asma, hipertensi, ibu hamil dengan riwayat melahirkan operasi, atau placenta previa." kata Nanik.

Tidak hanya itu, Nanik pun menjelaskan bahwa persiapan gizi anak dipantau sejak di dalam kandungan melalui ibunya yang mengandung. Setelah lahir, ia terus pantau anak-anak yang lahir melalui posyandu. "Kalau ada yang gizinya kurang, maka akan kami beri asupan nutrisi tambahan seperti biskuit bayi dan buah-buahan atau yang paling berisiko ya kami laporkan ke Puskesmas. Hal ini saya lakukan, karena saya mendukung pemberian nutrisi yang lengkap agar si kecil tumbuh dan berkembang memiliki potensi prestasi untuk generasi maju penerus bangsa." ujarnya.

Ketika ditanyakan mengenai penanganan saat kondisi darurat, bidan Nanik biasanya bekerja sama dengan perangkat desa atau bisa saja kerjasama dengan siapa saja yang mau menolong. "Misalnya dulu, pas awal-awal saya jadi bidan, saat itu mobil masih sangat jarang. Yang ada hanya truk yang terparkir di tempat usaha batu bata sisa memuat sekam, ya sudah berhubung waktu itu ada ibu hamil hendak melakukan persalinan harus dilarikan ke rumah sakit, ya pakai truk itu. Setelah itu gatal semuanya," ujarnya sembari tertawa.

Bidan Nanik pun juga bersyukur perangkat Desa Sambiyan selalu merespon positif dan mendukung atas program yang dijalankan. "Suami saya sendiri kan juga perangkat desa, jadi kalau ada apa-apa saya juga konsultasikan kepadanya. Di desa ini, semula sangat minim orang memiliki jamban, akhirnya saya punya program arisan jamban. Tujuannya adalah mendukung program sanitasi desa karena berdampak untuk kesehatan lingkungan masyarakat dan ini mendapat respon bagus dari masyarakat di sini." kata Nanik.

Halaman
12
Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved