Selalu Memantau Pasien Lewat Jaringan Telepon

Mengabdikan diri sebagai seorang bidan di pedesaan merupakan sesuatu yang patut disyukuri oleh Apri Yuanitha Eka Hargina.

Selalu Memantau Pasien Lewat Jaringan Telepon
IST
Bidan Apri Yuanitha Eka Hargina 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Mengabdikan diri sebagai seorang bidan di pedesaan merupakan sesuatu yang patut disyukuri oleh Apri Yuanitha Eka Hargina.

Apri begitu panggilan akrabnya, sudah menjalani profesi bidan sejak 12 tahun yang lalu. Apri menganggap menjadi seorang bidan adalah jalan untuk berbuat amal jari’ah membantu sesama tanpa pamrih.

Bahkan saat pertama kali menjadi bidan di Adipala, Cilacap, Apri pernah diupah hanya Rp 600.000 per bulan.

"Kala itu masih berstatus sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) dengan gaji awal Rp 600 ribu perbulan, lalu ditempatkan di Desa Adipala, Kecamatan Adipala. Karena ada aturan harus menetap di desa, jadi saya tinggal di Dusun Plikon selama 6 tahun. Kemudian pada akhir tahun 2014, barulah saya pindah tugas di Desa Karangsari dengan menempati PKD (Poliklinik Kesehatan Desa) hingga sekarang. Saat ini saya menangani 10 posyandu, 1 Posbindu, 3 Poslansia, 1 Posgawa dan tupoksi bidan desa lainnya," ujar Apri.

Bagi Apri bidan adalah profesi yang paling dicintainya. Sudah banyak suka dan duka yang Apri alami selama menjadi bidan.

Apri pun bercerita mengenai pengalaman yang tidak terlupakan. Saat itu ia harus memberikan pertolongan kepada warga desa yang hendak melahirkan saat dinihari.

Sebagai bidan yang harus siap siaga 24 jam, bidan Apri pun segera meluncur ke rumah seorang ibu yang hendak melahirkan jabang bayi itu.

"Terkadang jika harus menjumpai kasus melahirkan malam hari atau berangkat piket malam atau pulang piket sore yang saya takutkan bukanlah hantu. Tetapi takut jika sewaktu-waktu ada orang yang jahat atau jahil kepada saya. Sebab jarak dari rumah ke Puskesmas itu kurang lebih sekitar 4 kilometer. Saya harus melewati jalan yang banyak berlubang di tengah sawah yang sepi dan panjang. Pernah juga saya diganggu beberapa orang yang mabuk. Lokasi desa saya berada di perbatasan antara Kecamatan Maos dan Kecamatan Adipala," ujarnya.

Sukanya sekarang kata Apri, ibu-ibu hamil sudah terkondisikan bahwa ketika alami kontraksi, maka akan datang melahirkan langsung ke puskesmas.

"Saya senang jika ada ibu hamil yang kooperatif dan berkenan bersalin di puskesmas atau RS. Karena aturan di wilayah kerja kami adalah persalinan diwajibkan di fasilitas kesehatan. Jika ibu bersalin dan bayinya pun sehat rasanya sungguh bahagia tidak bisa diukur secara materi," ujarnya.

Halaman
123
Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved