Industri Bulu Mata Terpengaruh Persaingan Global

Industri bulu mata palsu di Purbalingga dikabarkan sedang goyah. Kabid Perindustrian Dinperindag Purbalingga Agus Purbadi Satya, mengaku ikur prihati

Industri Bulu Mata Terpengaruh Persaingan Global
muh radlis
Bulu Mata 

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA -- Industri bulu mata palsu di Purbalingga dikabarkan sedang goyah. Kabid Perindustrian Dinperindag Purbalingga Agus Purbadi Satya, mengaku ikur prihatin dengan kondisi tersebut.

Menurut Agus, goyahnya industri bulu mata Purbalingga antara lain dipicu persaingan global.

Gempuran pasar global terutama dari China yang memproduksi barang sama begitu masif.

Masalahnya, peredaran produk buatan China itu juga dibarengi dengan peningkatan kualitas yang semakin baik. Selain itu, jumlah ekspor China juga selalu meningkat karena proses produksi sudah menggunakan mesin.

"Mereka produknya terus meningkat. Baik dari segi jumlah maupun kualitas. Padahal mereka pakainya mesin, berarti lewat mesin itu mereka bisa memodifikasi hasil produksi," kata Agus, Rabu (20/3).

Tren peningkatan kualitas produk dari kompetitor (China) ini menurut Agus sudah terjadi dua tahun terakhir ini. Mau tidak mau, para pelaku industri bulu mata Purbalingga harus mampu meningkatkan kualitas produknya.

Dengan demikian, produk bulu mata Purbalingga tetap berani bersaing di pasaran. Sehingga tidak akan ada pengurangan jumlah karyawan karena permintaan berkurang.

“Dari segi kualitas sebenarnya kita tidak kalah. Tapi di dua tahun terakhir ini kok mereka (kompetitor) kualitasnya mendekati kita. Makanya kita harus genjot terus kualitasnya,” imbuhnya.

Dinperindag Purbalingga akan berdiskusi dengan pengusaha bulu mata dan rambut palsu di Purbalingga untuk mencari solusi terbaik dari masalah tersebut. Dia pun meminta berbagai pihak tidak panik dan khawatir atas dinamika industri bulu mata dan rambut palsu di Purbalingga saat ini.

Industri bulu mata dan rambut palsu di Purbalingga disebut terbesar di dunia setelah kota Guangzo di China.

Industri ini mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja yang didominasi kaum hawa. Nilai perputaran uang dari industri ini pun cukup besar.

Wajar saja, jika industri ini goyah, perekonomian daerah yang ikut ditopang dari keberadaan industri itu bisa ikut terguncang. (aqy)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved