Wakil Wali Kota Salatiga: 96 Persen Penderita TBC di Kota Salatiga Bisa Sembuh

Langkah penyembuhan dianggap penting terlebih dengan penanganan secara teratur, terkontrol, dan diobati, penderita dapat disembuhkan.

Wakil Wali Kota Salatiga: 96 Persen Penderita TBC di Kota Salatiga Bisa Sembuh
ISTIMEWA
Wakil Wali Kota Salatiga Muh Haris menyampaikan pidato dalam peringatan Hari TBC di Kota Salatiga belum lama ini. 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) mencatat Tuberculosis (TBc) menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia karena infeksi yang ditimbulkan terhadap penderita.

Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Salatiga Muh Haris dalam peringatan Hari Tuberkulosis belum lama ini.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara penyumbang TBC ketiga, setelah India, dan China.

"Data 2018 WHO, TBC masih masuk 10 besar kematian tertinggi di dunia dan penyebab infeksi tunggal," terangnya dalam rilis yang diterima Tribunjateng.com, Minggu (24/3/2019).

Dikatakan Muh Haris, sejauh ini 96 persen penderita TBC di Kota Salatiga bisa sembuh dengan penanganan baik dan berkelanjutan.

Ia menambahkan, langkah penyembuhan dianggap penting terlebih dengan penanganan secara teratur, terkontrol, dan diobati, penderita dapat disembuhkan.

"TBC merupakan penyakit yang penyebarannya harus dicegah. Karenanya kami ajak seluruh masyarakat untuk bisa menjaga kesehatan mulai sekarang dan selama-lamanya," katanya.

Direktur RS Paru dr Ario Wirawan Salatiga Farida Widayati menyampaikan, Indonesia ditargetkan bebas TBC pada 2035 mendatang.

Menurutnya, masih ada 16 tahun lagi untuk memerangi TBC.

Hal ini mengingatkan penyakit TBC masih menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia.

"Dari laporan global Report TV 2018, diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi, 10 juta pasien baru, dan 1,3 juta kematian dari TBC ini," ujarnya.

Farida menjelaskan, di Indonesia penderitanya 80 persen didominasi kelompok usia di atas 14 tahun yang merupakan usia produktif.

Lebih lanjut, selain merugikan secara ekonomis, penderita TBC  juga mendapatkan stigma sosial bahkan sampai dikucilkan di masyarakat.

"Kota Salatiga sekarang sedang melakukan beberapa langkah sesuai arahan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dalam penanganan TBC ke depan," jelasnya. (M Nafiul Haris)

Penulis: M Nafiul Haris
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved