Ribuan kasus TBC di Kabupaten Tegal Teridentifikasi Jajaran Dinas Kesehatan

Ribuan kasus TBC (Tuberculosis) di Kabupaten Tegal teridentifikasi jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal

Ribuan kasus TBC di Kabupaten Tegal Teridentifikasi Jajaran Dinas Kesehatan
Tribun Jateng/Akhtur Gumilang
Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia dan Pencanangan Desa ODF di Alun-alun Hanggawana, Slawi, Kabupaten Tegal, Minggu (24/3/2019) kemarin. 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Ribuan kasus TBC (Tuberculosis) di Kabupaten Tegal teridentifikasi jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal.

Dinkes Kabupaten Tegal mencatat, pada tahun 2018 lalu, diperkirakan jumlah penderita TBC ada sebanyak 4.380 kasus.

Sejauh ini, pihak Dinkes sudah menangani 3.329 kasus TBC atau tercapai baru 76 persen.

"Artinya, masih terdapat 24 persen atau 1.051 kasus TBC yang belum terjangkau dan terdeteksi," kata Wakil Bupati Tegal, Sabilillah Ardie saat acara Peringatan Hari TBC Sedunia dan Pencanangan Desa ODF, di Alun-alun Hanggawana, Kecamatan Slawi, Minggu (24/3/2019) kemarin.

Menurut dia, sejumlah kasus bahkan berkembang menjadi multidrug-resistant tuberculosis, yakni TBC yang resisten terhadap dua obat anti-tuberkulosis.

"Padahal, itu obat yang paling kuat, yaitu isoniazid dan rifampisin. Hal ini tentunya disebabkan oleh ketidakpatuhan penderita dalam berobat," sambung dia.

Kini, kata Ardie, penderita TBC yang sudah tidak terpengaruh atau kebal obat di Kabupaten Tegal ada sebanyak 59 orang.

Kemudian, 45 orang di antaranya terus menjalani pengobatan.

"Ketika masyarakat sudah tertular harus segera berobat sampai sembuh. Jangan tidak disiplin, sudah mengidap tetapi tidak disiplin. Jika sudah dinyatakan benar-benar sembuh, masyarakat juga harus terus menjaga kesehatan," tegas Ardie.

Sementara, Kepala Dinkes Kabupaten Tegal, Hendadi Setiadji mengungkapkan, pengobatan penyakit menular ini dapat dilakukan di puskesmas terdekat dan tidak ada pungutan apapun.

"Alias gratis. Ketika mendapati warga yang terinfeksi kuman TBC itu gratis. Hanya masalahnya pengobatan TBC minimal enam bulan, itu yang membuat masyarakat kurang teratur. Sehingga diperlukan peran keluarga untuk membantu atau mensupport penderita minum obat secara teratur,” pungkasnya. (TRIBUN JATENG/GUM).

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved