Mulai April, Cara Lain Berburu Kuliner Jadul di Kabupaten Pekalongan, Dibuka Tiap Minggu Pagi

Pecinta kuliner di Kota Santri sebentar lagi bisa berburu kuliner jadul (tempo doeloe) di Hutan Kota, Kabupaten Pekalongan.

Mulai April, Cara Lain Berburu Kuliner Jadul di Kabupaten Pekalongan, Dibuka Tiap Minggu Pagi
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
Bupati Pekalongan Asip Kholbihi menikmati minuman menggunakan gelas bambu saat mengecek kesiapan wisata baru Hutan Kota Rindu Sumilir, alih fungsi hutan kota di Kabupaten Pekalongan, Rabu (27/3/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Pecinta kuliner di Kota Santri sebentar lagi bisa berburu kuliner jadul (tempo doeloe) di Hutan Kota, Kabupaten Pekalongan.

Lokasi wisata yang akan dibuka tiap Minggu pagi tersebut sudah dilakukan ujicoba oleh Pemkab Pekalongan Selasa (26/3/2019).

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi pun telah meresmikan nama hutan kota tersebut menjadi Hutan Kota Rindu Sumilir.

Menurut Kasi Pengembangan Pariwisata Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pekalongan, Purwo Susilo, hutan kota tersebut memiliki luas sekitar 1 hektare.

"Pembersihan lokasi dan penerapan pedagang makanan jadul sudah dilakukan. Tinggal menunggu pembukaan secara resminya," jelasnya, Rabu (27/3/2019).

Kepala Dinporapar Kabupaten Pekalongan, Bambang Irianto menjelaskan, konsep yang diambil merupakan wisata murah bagi keluarga.

"Nantinya akan ada permainan jadul. Untuk membeli kuliner jadul di Hutan Kota Rindu Sumilir, pengelolaan menyiapkan koin tanah liat senilai Rp 2 ribu. Penataannya saat ini masih 80 persen. Awal April 2019 akan resmi dibuka," ujarnya.

Terpisah, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi menuturkan, UMKM dan ibu rumah tangga akan mengisi Hutan Kota Rindu Sumilir.

"Agar pelaku UMKM dan ibu rumah tangga bisa meningkatkan perekonomian, baik untuk Kabupaten Pekalongan maupun keluarga mereka," ujar Asip.

Sebelum dibuka resmi, Asip masih mengumpulkan masukan agar saat dibuka secara nyata dapat meningkatkan perekonomian pedagang.

"Mungkin ke depan, Hutan Kota Rindu Sumilir bisa untuk tempat pernikahan bagi yang menginginkan konsep ruang terbuka dan masyarakat yang mengelola. Tujuannya agar hutan kota lebih bermanfaat tanpa mengesampingkan fungsi penghijauan dan ruang publiknya," tambahnya. (Budi Susanto)

Penulis: budi susanto
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved