Lestarikan Dialek Daerah, Pemkot Pekalongan Gelar Festival Dialek Kalongan

Para peserta festival dialek kalongan menggunakan bahasa asli dialek Pekalongan digelar di ruangan amarta Setda Kota Pekalongan.

Lestarikan Dialek Daerah, Pemkot Pekalongan Gelar Festival Dialek Kalongan
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
Penampilan teater yang menggunakan dialek Pekalongan, dalam festival dialek Pekalongan di ruang Setda Kota Pekalongan, Sabtu (6/4/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Suara tawa memecah heningnya ruangan amarta Setda Kota Pekalongan, saat para peserta festival dialek kalongan menggunakan bahasa asli Pekalongan.

"Kotomono, pa ora, rakaiki dan ora kadlimoho," sering diucap oleh para peserta dalam acara tersebut.

Guyonan serta kritik sosial menggunakan dialek Pekalongan juga dipertunjukkan dalam ruang amarta.

Festival dialek Pekalongan itu diadakan karena semakin memudarnya bahasa daerah, serta agar bahasa asli Pekalongan tidak hilang ditelan zaman.

Dalam acara, Iyeng Sri Setyawati Pengampu di Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Semarang, yang merupakan warga asli Pekalongan menjelaskan, pemuda Pekalongan sudah mulai meninggalkan dialek daerah.

"Apa lagi yang tinggal di luar kota, baik bekerja ataupun menuntut ilmu. Maka dari itu agenda semacam ini sangat penting, dan harus terus digelar, supaya dialek Pekalongan tidak hilang," paparnya, Sabtu (7/4/2019).

Bupati Pekalongan: Senin Besok Jembatan Darurat Penghubung Dua Kabupaten Akan Dibangun

Iyeng mengatakan, catatan dari UNESCO setiap hari 200 dialek lokal di dunia hilang karena tidak ada yang melestarikannya.

"Jangan sampai dialek Pekalongan ikut hilang karena tidak ada yang mau menggunakannya, untuk generasi penerus jangan malu menggunakan budaya dan bahasa Pekalongan," katanya.

Ia menuturkan bahasa lokal menjadi pemersatu, dan terbukti di beberapa negara, di mana masyarakat Pekalongon tinggal.

"Saya beberapa kali ke luar negeri dan bertemu warga Indonesia, mereka juga tidak malu menggunakan bahasa daerah termasuk dialek Pekalongan. Jangan sampai warga Pekalongan di luar negeri menggunakan bahasa lokal, sedangkan masyarakat lokal meninggalkannya," tuturnya.

Adapun Wali Kota Pekalongan, Saelany Mahfudz, mewacanakan akan menerapkan dialek Pekalongan untuk digunakan di kantor pemerintahan.

"Setelah sarung batik, kemungkinan kami akan menerapkan penggunaan dialek Pekalongan untuk jajaran Pemkot Pekalongan. Mungkin bisa digunakan dalam hari-hari tertentu di setiap pekannya," imbuhnya.

Selain mewacanakan dialek lokal ke jajaran Pemkot, Saelany menambahkan, wacana tersebut juga akan diterapkan ke sekolah yang ada di Kota Pekalongan.

"Kemungkinan juga akan diterapkan ke sekolah yang ada di Pekalongan, namun akan kami bahas terlebih dahulu. Kami ingin budaya Pekalongan tetap terjaga agar tidak hilang," tambahnya. (bud)

Penulis: budi susanto
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved