Tradisi Nyadran Tenongan, Cara Masyarakat Desa Ngemplak Temanggung Merawat Kebhinekaan

Nyadran Tenongan merupakan wujud rasa syukur masyarakat setempat terhadapp limpahan rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa, selama setahun belakangan ini‎.

Tradisi Nyadran Tenongan, Cara Masyarakat Desa Ngemplak Temanggung Merawat Kebhinekaan
Tribun Jateng/Yayan Isro' Roziki
Warga makan bersama (kembul bujono) usai mengikuti ritual 'Nyadran Tenongan' di Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, Temanggung, Jumat (5/4/2019.  

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Yayan Isro' Roziki

TRIBUNJATENG.COM, TEMANGGUNG - ‎ Tinggi matahari ‎belum sampai sepenggalah, ratusan anggota masyarakat Desa Ngemplan, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, berduyun-duyun menuju Punden Makam Kiai Ledok, Jumat (5/4/2019).

Bertepatan dengan Jumat Kliwon bulan Rejeb dalam penanggalan Jawa atau Rojab dalam kalender Hijriyah.

Mereka berjalan beriringan, tua-muda, lelaki-perempuan, anak-anak dan remaja.

Tak ada sekat. Hanya, para lelaki dewasa rata-rata berjalan sembari memikul dua tenong (bakul berbentuk bundar dari anyaman bambu‎, red).

Ya, pagi itu masyarakat Desa Ngemplak dari tiga dusun: Rowoseneng, Kebonandong, dan Rejosari, menggelar tradisi 'Nyadran Tenongan' di area makam Kiai Ledok.

‎"Ini tradisi yang sudah berjalan puluhan tahun. Yang datang seluruh warga, tua-muda, laki-perempuan, muslim maupun non-muslim," kata seorang warga, Yastro (67), sembari menurunkan dua tenong dari pikulannya.

Dituturkan, Nyadran Tenongan merupakan wujud rasa syukur masyarakat setempat terhadapp limpahan rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa, selama setahun belakangan ini‎.

Selain itu, sebagai pengingat jasa leluhur, Kiai Ledok, yang 'babat alas' desa setempat.

"Kiai Ledok dipercaya sebagai orang pertama yang membuka hutan di sini, untuk dijadikan perkampungan. Artinya, beliau adalah leluhur bagi seluruh warga sini," ucap kakek lima cucu ini.

Dituturkan, warga yang hadir tak hanya mereka yang beragama Islam. Warga non-muslim pun turut membaur bersama-sama. Perbedaan kasta, strata sosial‎-ekonomi, bahkan agama lebur di sana. Tak ada sekat sosial sama sekali.

Halaman
123
Penulis: yayan isro roziki
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved