Geng Nyincing Daster Terapkan Deadline Tulisan Setiap Dua Pekan

Nyincing Daster merupakan bahasa Jawa yang berarti mengangkat daster. Biasanya hal ini dilakukan wanita saat terburu-buru.

Geng Nyincing Daster Terapkan Deadline Tulisan Setiap Dua Pekan
Istimewa
Geng Nyincing Daster di sela kegiatan diskusi 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tenggat deadline tidak hanya dikenal oleh para pekerja media saja.

Hal tersebut juga diterapkan dalam Geng Nyincing Daster, sebuah komunitas literasi dan sastra di Kota Semarang.

Komunitas yang beranggotakan tujuh orang tersebut mematok deadline tulisan setiap dua pekan.

Mereka berkumpul dan berkomitmen untuk mengupas, mengasah, berbagai peristiwa ke dalam bentuk karya tulis sastra puisi maupun cerpen secara konsisten.

Berdiri sejak 27 Februari 2017 silam, komunitas ini telah melahirkan buku antologi sastra cerpen dan puisi berjudul Syak Merah Jambu.

Buku itu berhasil terlahir di tengah kesibukan masing-masing anggota Geng Nyincing Daster.

"Kami terinspirasi semangat kata-kata Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."

"Menulis adalah bekerja untuk keabadian," sebut anggota Geng Nyincing Daster, Gusti Hasta, Minggu (7/4/2019).

Ia menyebutkan, buku Syak Merah Jambu merupakan cara dan upaya untuk merawat ingatan.

Berbagai topik sosial disajikan dari berbagai sudut pandang.

Halaman
12
Penulis: Jamal A. Nashr
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved