Kenduri Nusantara, Upaya Warga Banyumas Ingatkan Identitas Bangsa Indonesia

Warga Banyumas menggelar Kenduri Nusantara, pada Senin (8/4/2019). Acara berlangsung di Bumi Perkemahan Kendalisada, Kalibagor, Banyumas.

Kenduri Nusantara, Upaya Warga Banyumas Ingatkan Identitas Bangsa Indonesia
TRIBUNJATENG/Permata Putra Sejati 
Pentas Kesenian Ebeg Banyumasan ramaikan acara Kenduri Nusantara mengambil tema "Eling-Eling Sapa Eling Baliya Maning", pada Senin (8/4/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Sebagai upaya merawat keutuhan bangsa di tengah situasi politik yang kian memanas menjelang Pemilu 2019, warga Banyumas menggelar Kenduri Nusantara, pada Senin (8/4/2019).

Acara berlangsung di Bumi Perkemahan Kendalisada, Kalibagor, Banyumas. Acara tersebut adalah sebagai rangkaian acara Kenduri Nusantara. Kenduri Nusantara Banyumas mengambil tema 

"Eling-Eling Sapa Eling Baliya Maning" (Ingat-Ingat Siapa Ingat Pulanglah Kembali).

Acara Kenduri Nusantara sebelumnya sudah terselenggara di sejumlah daerah.

"Kami terinspirasi gerakan Kenduri Nusantara yang telah dilakukan saudara sebangsa di Solo, Pati, Magelang dan berbagai wilayah lain," ujar Mulyono, Koordinator Kenduri Nusantara Banyumas kepada Tribunjateng.com, Senin (8/4/2019).

Dengan tema 'Eling-Eling Sapa Eling Baliya Maning' peserta bersama-sama memanjatkan doa memohon keselamatan negeri. Melalui kegiatan ini diharapkan menjadi pengingat masyarakat supaya kembali pada nilai-nilai kearifan Pancasila.

Masyarakat Banyumas mesti memahami identitas sebagai bangsa Indonesia yang ramah, santun, kaya seni dan budaya, guyub rukun dalam perbedaan. 

Acara melibatkan ulama dan santri, tokoh lintas agama, tokoh masyarakat, pelaku seni budaya, dan masyarakat Banyumas.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga menyempatkan hadir di acara ini.

Kenduri Nusantara Banyumas dimeriahkan dengan Pentas Seni Ebeg Banyumasan, warga Desa Kalicupak Kidul. Tidak lupa pula Pementasan Lengger Banyumasan persembahan warga Desa Wlahar.

Acara Kenduri Nusantara Banyumas ditutup dengan pemotongan tumpeng nasi merah putih, tumpeng takiran dan gunungan yang merupakan sumbangan masyarakat dari desa-desa sekitar Kalibagor dan Banyumas.

"Kami berkumpul, bersatu, dan menyatakan tekad kami untuk terus merawat NKRI dan menjaga Indonesia. Karena pada hakekatnya semua manusia bersaudara dan satu keturunan maka acara ini juga bermakna: Ngumpulna balung pisah, ngraketna paseduluran," ungkap Mulyono. (Tribunjateng/jti)

Penulis: Permata Putra Sejati
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved