Kala Investor Wait and See Tunggu Selesai Pemilu

Lelang surat berharga negara (SBN) diperkirakan masih akan berlangsung ramai di kuartal II/2019. Tetapi, adanya agenda pemilu hingga libur Lebaran

Kala Investor Wait and See  Tunggu Selesai Pemilu
Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Lelang surat berharga negara (SBN) diperkirakan masih akan berlangsung ramai di kuartal II/2019. Tetapi, adanya agenda pemilu hingga libur Lebaran, nilai penawaran yang masuk secara akumulatif diperkirakan tidak akan setinggi pada kuartal I/2019.

Mengutip data Direktorat Jenderal Pengelolan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, pemerintah telah menyerap dana senilai Rp 221,62 triliun dari seluruh lelang SBN di tiga bulan pertama tahun ini. Jumlah itu jauh melampaui target penerbitan SBN di periode tersebut sebesar Rp 185 triliun.

Saat ini, sebagian besar investor sedang mencermati perkembangan kondisi politik Indonesia menjelang pemilu. Sehingga, investor akan menahan diri.

Apalagi, dalam beberapa survei terakhir, selisih suara antara calon pasangan presiden tampak mendekat. "Hasil pemilu masih sulit diprediksi dan bakal membuat penawaran lelang tidak begitu banyak, tapi masih dalam kategori yang wajar," jelas Rio Ariansyah, Senior VP & Head of Investment Recapital Asset Management, Jumat (5/4) lalu.

Rio memerkirakan investor yang sudah priced in dan percaya terhadap survei hasil pemilu akan tetap berbondong-bondong memburu SBN dalam jumlah besar sebelum hari pencoblosan tiba.

Tapi, bagi yang masih butuh kepastian terkait dengan hasil pemilu, kemungkinan memilih opsi wait and see dan baru masuk ke lelang setelah agenda politik itu selesai. Kalaupun investor tersebut tetap membeli obligasi melalui lelang sebelum pemilu tiba, nominal pembeliannya cenderung lebih rendah.

Senada, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail meyakini faktor wait and see selama masa pemilu akan berdampak pada penurunan nilai penawaran yang masuk pada lelang SBN, terutama di awal kuartal ini.

Mereda

Namun, penurunannya tidak akan banyak. Sebab, risiko global sudah mereda ketimbang beberapa waktu lalu. Satu di antaranya sentimen negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Negosiasi itu sudah makin mendekati kata sepakat.

Begitu pula dengan sentimen kenaikan suku bunga acuan AS yang kian pudar. "Justru sekarang kesempatan yang tepat bagi investor untuk masuk lewat lelang, mengingat yield obligasi masih menarik dan harganya masih murah," ungkap Mikail.

Sekadar informasi, pada Jumat (5/4) lalu, yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun berada di 7,545 persen, atau level terendah tahun ini. Mikail menilai, potensi penurunan yield SUN hingga ke bawah 7,5 persen masih terbuka lebar, seiring dengan stabilnya rupiah dan berkurangnya risiko global.

Selain itu, potensi masih ramainya lelang SBN di kuartal kedua juga didorong kebijakan front loading yang dilakukan oleh pemerintah.

"Investor akan dipacu membeli SBN lebih cepat, karena potensi penyerapan dana dari lelang oleh pemerintah kemungkinan akan lebih terbatas di waktu mendatang," papar Mikail.

Ia juga menyebut, selama di periode pemilu, para investor bakal lebih banyak memburu surat utang seri-seri tenor menengah ketika mengikuti lelang.

Selain itu, investor akan melakukan antisipasi dengan menyisihkan sebagian dananya ke instrumen lain, seperti pasar uang.(Kontan/Danielisa Putri Adita)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved