Ngopi Pagi

FOKUS : Gaet Traveler Lewat Travelator

Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang membangun travelator menuai sorotan. Proyek yang akan direalisasikan pada 2020 itu

FOKUS : Gaet Traveler Lewat Travelator
tribunjateng/grafis/bram
RIKA IRAWATI wartawan Tribun Jateng 

Oleh Rika Irawati
Wartawan Tribun Jateng

Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang membangun travelator menuai sorotan. Proyek yang akan direalisasikan pada 2020 itu dinilai hanya menghambur-hamburkan anggaran. Dibangun di pedestrian sepanjang Jalan Pemuda, mulai dari Lawangsewu sampai Mal Paragon Semarang, proyek ini diperkirakan menelan anggaran Rp 10 miliar-Rp 15 miliar.

Itu belum termasuk anggaran persiapan, semisal untuk feasibility study (fs) yang dilakukan sejak 2017 dan penyusunan detail engineering design (DED) yang dikerjakan tahun ini.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang Iswar Aminuddin mengatakan, pembangunan travelator merupakan bentuk pemenuhan fasilitas dan prasarana di kota berkembang. Memudahkan dan membuat pejalan kaki lebih nyaman menyusuri Jalan Pemuda.

Pengunjung Lawangsewu yang ingin window shopping, nonton, makan, atau berbelanjan ke Mal Paragon pasti tak terlalu lelah berjalan kaki menyusuri pedestrian ini. Begitu juga sebaliknya. Mereka pun tak perlu membawa serta kendaraan yang telah diparkir di kantong parkir mal atau tempat wisata kawasan Tugu Muda. Hemat biaya parkir dan tak bikin macet.

Selain itu, keberadaan ramp berjalan ini juga diharapkan bisa menjadi atraksi baru yang menarik wisatawan layaknya Semarang Bridge Fountain. Setelah air mancur menari di Banjir Kanal Barat dioperasikan, setiap Jumat dan Sabtu malam, kawasan ini jadi lebih ramai pengunjung. Di malam-malam sebelumnya, kawasan ini sering jadi tempat nongkrong anak muda yang biasanya mabuk-mabukan.

Bisa jadi, mereka yang penasaran pada travelator akan datang berbondong-bondong dan menjajal. Siapa tahu, traveler yang bosan mengunjungi tempat-tempat antimainstream segera mengepak ransel dan backpacker-an ke Semarang untuk menjajal travelator. Bahkan, mungkin, setiap sore, akan banyak ibu-ibu yang datang sambil menyuapi anak-anak mereka yang masih balita, menikmati travelator ini.

Kunjungan wisatawan, yang tentunya akan didominasi domestik itu diharapkan bisa meningkatan kesejahteraan. Dengan asumsi, pengunjung yang ramai akan membuat perdagangan makin menggeliat, warung-warung yang ramai, dan investasi tinggi. Jangan membayangkan, warung yang dimaksud berupa lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) di pedestrian sepanjang Jalan Pemuda. Kalau ini terjadi, jalan protokol yang menjadi wajah kota itu tentu menjadi kumuh dan semrawut.

Di Indonesia, sepertinya, pembangunan travelator untuk umum, di luar gedung atau ruangan, belum pernah ada. Biasanya, sarana mobilitas ini disediakan pengelola mal, stasiun, atau bandara. Tujuannya, memudahkan serta mempercepat pengunjung dan penumpang tiba di lokasi yang dituju. Semisal, gate penerbangan yang berjarak lebih dari 100 meter. Karena itu, rencana Pemkot Semarang membangun travelator di pedestrian Jalan Pemuda ini layak diapresiasi sebagai terobosan.

Memang, banyak yang mencibir rencana ini. Wong pedestrian atau trotoar saja hanya tersedia di jalan utama, itu pun di tengah kota, kok sudah aneh-aneh bikin travelator. Belum lagi, jalur untuk pejalan kaki yang ada belum ramah difabel, ini malah mengambil space pedestrian untuk sarana yang bikin orang jadi 'agak' malas berjalan.

Belum lagi perawatannya setiap bulan. Bagaimana kalau hujan? Kena debu? Jadi media vandalisme? Apa tidak dipikirkan betapa banyaknya uang yang dikeluarkan untuk melindungi dari hal-hal itu? Apakah tidak lebih baik, uang itu digunakan untuk merawat taman, membangun trotoar, pengadaan tempat sampah di tempat-tempat umum, atau, pengadaan toilet portabel yang diletakkan di setiap ruang terbuka hijau yang belum memiliki toilet?

Sudah, jangan berpikir negatif dulu. Siapa tahu, nantinya, yang ingin menggunakan travelator ditarik biaya karcis. Dana ini bisa untuk biaya perawatan. Dan, kelebihannya, tentu masuk kas daerah. Malah bisa jadi sumber pendapatan asli daerah (PAD).

Di Hongkong, travelator outdoor sepanjang 800 meter juga dibangun pemerintah setempat. Di awal pembangunannya pada 1993, banyak pula yang mengkritik. Nyatanya, masih ada sampai sekarang bahkan jadi ikon yang dicari traveler.

Memang, travelator yang dipadu eskalator ini sepertinya lebih berguna dibanding travelator yang rencananya dibangun di Jalan Pemuda. Selain menghubungkan tempat bermedan naik turun, ramp berjalan ini juga dimanfaatkan para pekerja kantoran di sepanjang jalur itu. Keberadaannya pun dirasa efektif mengurangi kemacetan. Tapi, mari kita tunggu dan dengar dulu konsep dari Pemkot Semarang terkait rencana ini. Siapa tahu, travelator ini benar-benar magnet wisatawan. (*)

Penulis: rika irawati
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved