Mengenal Konsep Diversi yang Membuat para Pengeroyok Audrey Bisa Bebas dari Kewajiban Jalani Hukuman

Jika merujuk pada Undang-undang Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, diversi ini merujuk pada keadilan restoratif

Mengenal Konsep Diversi yang Membuat para Pengeroyok Audrey Bisa Bebas dari Kewajiban Jalani Hukuman
kompas.com
Kolase ilustrasi kasus Audrey dan pengadilan. 

TRIBUNJATENG.COM - Selain kabar tentang pernyataan maaf dari para pelaku pengeroyok Audrey, siswi SMP di Pontianak, kabar lain yang menjadi sorotan dari kasus bullying tersebut adalah penetapan 3 orang pelaku pengeroyokan sebagai tersangka.

Kabar penetapan tersebut menjadi perdebatan di dunia maya sebab disertai dengan pernyataan Kapolresta Pontianak Kombes Pol Anwar Nasir bahwa para pelaku tersebut mungkin tidak memiliki kewajiban mejalani hukuman alias diversi.

Hal tersebut disebabkan ketiga pelaku dikenai Pasal 80 Ayat 1 Undang-undang tentang Perlindungan Anak dengan "hanya" ancaman hukuman penjara tiga tahun enam bulan.

"Sehingga sesuai dengan sistem peradilan anak, bahwa ancaman hukuman di bawah 7 tahun akan dilakukan diversi," ungkap Anwar.

Munculnya opsi diversi ini membuat banyak warganet merasa geram karena merasa bahwa para pelaku sudah sepatutnya menjalani hukuman atas tindakannya.

Keadilan Restoratif

Lalu, bagaimana sebenarnya bisa muncul diversi dalam sistem peradilan kita?

Jika merujuk pada Undang-undang Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, diversi ini merujuk pada keadilan restoratif.

O
dok Twitter
Cuplikan video Boomerang dari Instagram yang memperlihatkan ketiga terduga pelaku pengeroyokan siswi SMP di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, sedang berpose santai di depan polisi beredar luas di media sosial dan jejaring sosial. 

Melansir dari Hukum Online keadilan restoratif adalah suatu proses diversi di mana "semua pihak yang terlibat dalam suatu tindak pidana tertentu bersama-sama mengatasi masalah serta menciptakan suatu kewajiban untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik dengan melibatkan korban, anak, dan masyarakat dalam mencari solusi untuk memperbaiki, rekonsiliasi, dan menenteramkan hati yang tidak berdasarkan pembalasan."

Untuk lebih memahami apa itu keadilan restoratif, mari kita simak tulisan Artidjo Alkostar, Ketua Muda Pidana Mahkamah Agung RI yang juga Dosen Fakultas Hukum UII di kompas.com dengan judul "Keadilan Restoratif".

Halaman
1234
Editor: muslimah
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved