Kang Abik Ungkap Perbedaan Indonesia dan Mesir: Hidup di Indonesia Harus Disyukuri

Penulis novel Ayat-ayat Cinta Habiburrahman El Shirazy mengungkapkan perbedaan antara kehidupan di Mesir dan Indonesia.

Kang Abik Ungkap Perbedaan Indonesia dan Mesir: Hidup di Indonesia Harus Disyukuri
Istimewa
Penulis Novel Ayat-ayat Cinta Habiburrahman El Shirazy menyampaikan taushiyah dalam acara Ngaji Kebangsaan memperingati Isra' Mi'raj Nabi Muhammad di Masjid Kampus USM, Jumat (12/4/2019) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Jamal A Nashr

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Penulis novel Ayat-ayat Cinta Habiburrahman El Shirazy mengungkapkan perbedaan antara kehidupan di Mesir dan Indonesia.

Hal itu disampaikan dalam acara Ngaji Kebangsaan dalam rangka memperingati Isra' Mi'raj Nabi Muhammad di Masjid Baiturrasyid Kampus Universitas Semarang (USM), Jumat (12/4/2019) malam.

Kang Abik sapaannya mengatakan, madzhab ke-Islaman yang dianut di kedua negara juga terpengaruh kondisi geografis. Satu di antaranya ketersediaan air di suatu wilayah yang mempengaruhi praktik keislaman.

Dalam beribadah seorang muslim harus dalam kondisi suci baik dari hadas kecil atau besar.

Bersuci dapat dilakukan menggunakan air dengan berwudlu atau mandi. Sementara dalam kondisi darurat dapat digantikan debu atau tanah.

"Kita ditakdirkan oleh Allah hidup di Indonesia harus disyukuri, maka wajar kalau di Indonesia banyak bermadzhab Syafi’i karena banyak air. Sementara di Afrika bermadzhab Maliki karena cari air susah, inilah bukti Allah Maha Adil," ungkapnya.

Mesir yang berada di dataran Afrika jauh berbeda dengan Indonesia yang beriklim tropis. Ia mengajak untuk bersyukur dilahirkan di Indonesia dengan cara menjaga kelestarian lingkungan.

"Saya pernah tinggal di Mesir lama. Di Mesir kalau musim dingin bisa sangat dingin sampai 6 derajat celcius tetapi kalau musim panas sangat panas sampai 45 derajat dan ditambah badai debu yang gelap dan panas. Bahkan di negara-negara di kawasan Afrika Utara sangat minim air, sementara di Indonesia air sangat melimpah” tuturnya.

Acara yang terselenggara atas kerja sama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Forum Komunikasi Mahasiswa Islam (Fokmi) USM dan Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma JT) tersebut juga mendatangkan pembicara Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah Pedurungan, KH In’amuzzahidin.

Dosen Fakultas Usuludin UIN Walisongo Semarang itu menyampaikan, perdamaian yang selama ini terjalin di Indonesia harus terus dijaga. Maskipun dihuni banyak penganut agama, masyarakat Indonesia tetap berdampingan secara damai.

"Kalau Indonesia aman kita bisa sholat dengan khusyu’. Kalau negara tidak aman, kondisi dalam ketakutan maka salat juga tidak tenang dan tidak bisa khusyu’. Untuk itu mari kita jaga NKRI agar aman dan damai," ujar Gus Inam, sapaannya.

Kegiatan yang dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Semarang ini juga termasuk dalam rangkaian peringatan ulang tahun Kota Semarang ke-472.(*)

Penulis: Jamal A. Nashr
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved