Pedagang Ikan Hias Keluhkan Omzet Turun Pasca Tempati Relokasi Sementara

pedagang ikan hias yang semula berjualan di Jalan Kenari, Purwodinatan, kini masih menempati tempat relokasi sementara di pinggir Jalan Agus Salim

Pedagang Ikan Hias Keluhkan Omzet Turun Pasca Tempati Relokasi Sementara
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN
Seorang pedagang ikan hias sedang menjaga kiosnya, Minggu (14/4/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Para pedagang ikan hias yang semula berjualan di Jalan Kenari, Purwodinatan, kini masih menempati tempat relokasi sementara di pinggir Jalan Agus Salim. Para pedagang mulai mengeluhkan kondisi tersebut.

Pedagang ikan hias, Agus Siswanto mengatakan, minat para pembeli ternyata sangat jauh berbeda dibanding saat pihaknya berjualan di tempat lama. Hal ini disebabkan lahan parkir tempat relokasi sementara sangat sempit sehingga membuat para pembeli enggan untuk mampir. Omzet pun menurun drastis sejak menempati tempat sementara.

Saat ini, Agus hanya mengandalkan pelanggan tetap saja. Para pelanggan tetapnya pun kerap mengeluh kepadanya tentang kondisi lahan parkir saat ini.

"Omzetnya sangat menurun. Banyak pelanggan yang mengeluh malas ke sini karena parkirnya susah," ungkap Agus, Minggu (14/4/2019).

Selain persoalan parkir, Agus juga mengeluhkan banyak ikan yang mati. Posisi lapak yang sangat dekat dengan jalan raya membuat debu bertebaran masuk ke lapak sehingga menyebabkan ikan mati.

"Rugi banget. Ikannya banyak yang mati, mungkin gara-gara kena debu. Ini kan di pinggir jalan, debunya sangat banyak" imbuhnya.

Dia berharap, pembangunan lapak yang berada di Jalan Kenari segera rampung agar pedagang bisa segera menempatinya kembali.

"Dulu janjinya Dinas Perdagangan itu pembangunan selesai sekitar dua bulan. Kami tunggu saja apa bisa selesai tepat waktu atau tidak. Supaya semuanya enak, pedagang enak pembeli juga enak," paparnya.

Pedagang ikan hias lainnya, Bati (38) juga mengungkapkan hal senada. Omzet bulanan dari penjualan aksesoris akuarium menurun hingga 50 persen. Bahkan, dia pernah mengalami dalam sehari tidak ada pembeli sama sekali.

"Sejak pindah di sini sepi, biasanya dapat lumayan sekarang lumanyun. Saya pernah dapat Rp 50 ribu. Itu buat nutup sana sani, belum ada untungnya. Belum lagi kalau nggak ada pembeli," keluhnya.

Halaman
12
Penulis: Eka Yulianti Fajlin
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved