Ketua Prodi Antropologi FIB Undip: Warga Samin Sekadar Penuhi Kewajiban

Masyarakat Samin atau Sedulur Sikep memang boleh dikata masih menjadi subkultur yang kokoh dan unik. Mereka tetap mempertahankan sistem budaya

Ketua Prodi Antropologi FIB Undip: Warga Samin Sekadar Penuhi Kewajiban
TRIBUNJATENG/M NUR HUDA
Tokoh-tokoh Samin asal beberapa kota di Jawa Tengah menyampaikan sikap terkait pabrik semen di Rembang kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Kamis 15 Desember 2016. 

TRIBUNJATENG.COM -- Masyarakat  Samin atau Sedulur Sikep memang boleh dikata masih menjadi subkultur yang kokoh dan unik. Mereka tetap mempertahankan sistem budaya dan identitasnya yang kuat, yang terwujud pada komitmen untuk terus melaksanakan ajaran saminisme dari tokoh pendirinya Raden Kohar atau Samin Surosentiko yang lahir tahun 1859.

Cara pandang dengan prinsip hidup subsisten, lugu, mligi, kudu weruh te'e dhewe, amanat, wasiat, akibat, jujur, baik, Itu semua hingga sekarang tetap menjadi semesta budayanya yang punya makna dan digunakan penuh sebagai pedoman (blueprint) dalam menafsirkan dan menjalani kehidupan di ranah apapun termasuk di dunia politik.

Samin yang berarti "sama-sama amin" atau sama rata, sama rasa, sama sejahtera, sama mufakat menjadi basis moral gerakan kebudayaan yang dulu dipakai untuk melawan pemerintahan kolonial belanda secara halus (simbolik), dengan bentuk-bentuk ketidakooperatifan, pembangkangan, suka menentang dan tidak mau membayar pajak.

Gerakan kebudayaan ini secara materi terwujud pula dalam tampilan yang seolah-olah serba terbelakang, menolak sistem pendidikan formal yang diduga menyebabkan lulusan pindah sebagai tenaga kerja di luar lahan pertanian.

Begitupun dari cara berpakaian, mereka tidak mengenakan pakaian-pakaian bercorak eropa, atau agama tertentu, tetapi lebih suka memakai "suwal" atau celana yang panjangnya di bawah lutut dan bebed (kain) hitam.

Yang menarik dari masyarakat samin adalah keteguhannya dalam merespon modernisasi. Dalam konteks ini, umumnya warga mengambil posisi "transform" atau merubah diri, mengikuti kebudayaan baru yang dibawa oleh arus besar modernisasi.

Atau paling tidak "continuum", yakni mengadaptasikan kebudayaan miliknya secara perlahan dengan kebudayaan baru. Tetapi tampaknya hal itu tidak menjadi pilihan komunitas sedulur sikep. Mereka tidak menghiraukannya, dan justru cenderung "resisten" terhadap ide perubahan yang dibawa kaum modernis.

Di ranah lingkungan misalnya, arus besar modernisasi yang menghendaki lingkungan dapat dikelola untuk industrialisasi dengan imbangan konservasi sebagaimana umumnya yang dianut kaum konservasionisme; hal itu tidak dapat diterima oleh komunitas samin.

Mereka tetap pada pendiriannya bahwa lingkungan dan alam adalah karunia Tuhan yang tidak boleh dieksploitasi untuk komoditi. Lingkungan tidak boleh diapa-apakan, kalaupun harus dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi hanya boleh dipakai sekedar memenuhi kebutuhan subsisten mereka. Ini yang disebut penganut preservasionisme.

Begitupun dalam dunia politik, sepertinya cenderung sama. Sekalipun tidak sedikit warga samin yang telah mengalami perubahan, terutama kaum mudanya, tetapi sikap politik warganya, masih bertipe "spektator" atau pemilih pasif yang penting mencoblos tanpa membedakan calonnya. Semua calon dipersepsi sama, netral, bebas nilai. Mereka hanya ingin memenuhi kewajiban normatif sebagai bagian dari warga negara.

Susah ditemukan diantara mereka yang bercorak "gladiator", atau "petarung" yang siap bertempur membela calon mana yang ia suka dan harus dipilih. Perubahan belum terlalu menonjol. Masih kuat berpegang pada adat dan tradisi.

Jika demikian halnya maka pola budaya poltik yang kini berkembang di kalangan mereka adalah budaya politik "parokial", yang berarti hanya memilih atas dasar kewajiban normatif dan faktor afektif (kedekatan emosional) saja. Tidak ada yang memilih atas dasar prinsip rasional yang terlihat dari pilihan karena visi, misi, program kerja, dan track record calon.

Itupun sudah bagus karena sebelumnya kecenderungan sikap politik mereka dominan apatis. Semoga di pemilu 2019, sekurang-kurangnya pola yang sama masih muncul untuk mengurangi angka golput di Jawa Tengah. (tim)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved