Kisah Tentara Hitam Pemakan Sampah Rumah Tangga, Alternatif Solusi Persoalan Pengelolaan Sampah

Warga Desa Sokawera Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas memiliki ide untuk mengelola sampah menggunakan pasukan lalat tentara hitam.

Kisah Tentara Hitam Pemakan Sampah Rumah Tangga, Alternatif Solusi Persoalan Pengelolaan Sampah
TRIBUN JATENG/PERMATA PUTRA SEJATI
Budidaya lalat tentara hitam di Grumbul Larangan, Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, pada Senin (15/4/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Cahaya matahari menerobos celah-celah kecil kandang berselubung kelambu berwarna hijau transparan berukuran 4 meter x 2 meter.

Pasukan lalat tentara hitam atau "Black Soldier Fly (BSF)" tampak berterbangan ke sana-kemari.

Di bagian luar kandang, sejumlah pemuda RT 7 RW 4 Grumbul Larangan, Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, sibuk menyiapkan sampah-sampah organik.

Terlihat di luar kandang secara terpisah, segerombolan "Maggot" atau belatung begitu rakus melahap sisa-sisa makanan.

Hampir bisa ditemui di setiap rumah warga, budidaya lalat tentara hitam.

Oleh karena itu, tidak heran, kampung Larangan saat ini identik dengan sebutan 'Kampung Laler (Larangan Lewih Rukun)'.

"Bayangkan saja satu kilogram Maggot (larva) bisa mengonsumsi 1.5 kilogram lebih sampah organik milik warga. Sampah organik tersebut akan diurai menjadi kompos," ujar Nasikin ketua RT 7 RW 4 sekaligus pembudidaya lalat tentara hitam kepada Tribunjateng.com, Senin (15/4/2019).

Produksi Sampah Kota Semarang 1.200 Ton per Hari, 46 Hektar TPA Jatibarang Bakal Penuh

Bukan menjijikkan melainkan menguntungkan dan memiliki nilai ekonomis.

Itulah pandangan umum warga di Grumbul Larangan.

Jangan heran jika berkunjung ke desa tersebut banyak dijumpai lalat-lalat di budidayakan.

Halaman
1234
Penulis: Permata Putra Sejati
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved