Opini Woro Seto: Merayakan Hari Tenang

Hari tenang yang bikin nggak tenang. hari tenang penuh kegalauan. tapi yang penting tetap adem ayem. pemimpin ke depan harus membawa perubahan.

Opini Woro Seto: Merayakan Hari Tenang
tribunjateng
WA Woro Seto 

“TES-TES, satu-dua-tiga,” terdengar suara pria paruh baya menggema melalui toa masjid. Ku berbegas mematikan televisi lantaran penasaran dengan informasi yang akan disampaikan. Biasanya, di kampungku, toa masjid selain difungsikan untuk mengumandangkan adzan, juga difungsikan untuk menyebar informasi. Informasinya beragam, bisa soal tetangga yang meninggal, kerja bakti ataupun informasi seputar pengajian.

“Bapak-bapak, diharap kumpul di pos ronda, kita akan menggelar acara kerja bakti dan pembuatan Tempat Pemungutan Suara (TPS) kumpul jam 08.00 pagi, terima kasih atas perhatiannya," ujar pria Paruh baya itu.

Mendengar informasi tersebut,  Pak Udin, tetanggaku, berteriak memanggil Pak Parto dan Pak Sardi untuk berangkat bersama menuju pos ronda.

“Waah, libur jualan lagi nih, hari tenang kok malah bikin nggak tenang,” celetuk Pak Sardi. Aku yang mendengar ucapan Pak Sardi itu mendadak mengernyitkan dahi. Ku pikir ada benarnya. Biasanya Pak Sardi pagi-pagi sudah berangkat menuju pasar yang jaraknya cukup jauh dari kampung kami. Di hari menjelang pencoblosan alias hari tenang, Pak Sardi terpaksa tidak jualan lantaran ikut kerja bakti bersama warga lain hingga pemilu selesai.

Sebenarnya, Pak Sardi tidak benar-benar mengeluh karena harus libur jualan dan ikut kerja bakti. Namun di dalam hatinya ada sebuah pertanyaan besar, “yen bar pemilu entukku opo (kalau habis pemilu aku dapat apa)?” .

Aku sungguh paham dengan pemikiran Pak Sardi. Pasalnya, ia kerap nongkrong di angkringan dan berdiskusi dengan teman-temannya sambil menikmati segelas kopi kapal api.  Kata-kata yang paling kuingat dari Pak Sardi seperti ini :”Habis pemilu itu, aku juga masih jualan es, njenengan juga masih jualan angkringan, tapi aku berdoa mugo-mugo suk pemimpin terpilih membawa berkah buat semua” ujar Pak Sardi.

Pak Sardi dan bapak-bapak kampungku, memang ucapannya selalu menggelitik untuk ditanggapi. Aku pernah mendengar obrolan mereka soal kampung yang berseteru karena beda pilihan capres dan caleg, Pak Sardi dan kawan-kawan cukup heran mengapa bisa terjadi seperti itu. Karena dikampung kami, beda pilihan ada sebuah hal yang biasa dan bukan menjadi masalah.

“Kalau sakit, tetangga yang menolong, tetangga yang membantu, bukan orang-orang yang bakal dapat kursi itu,” Kata Pak Sardi saat itu dan disambut ucapan sepakat dari bapak-bapak yang lain.

Lamunanku tentang ucapan Pak Sardi mendadak hilang ketika suara Mbok Parni mengetuk pintu rumah dan mengajakku untuk menuju rumah bu RT. Biasanya, saat  bapak-bapak kerja bakti atau persiapan mendirikan TPS, ibu-ibu akan ditugasi memasak dan menyiapkan makanan.

Hari tenang jelang pencoblosan ini menjadi hari yang paling sibuk di kampung kami. Semua warga ikut bergotong royong. Anak-anak muda akan sibuk membuat hiasan agar TPS semakin tampak meriah. Anak-anak kecil menjadi tim hore asyik bermain di lapangan dekat TPS. Aku semakin tergelitik dan mbatin, “ini kan hari tenang, kok pada sibuk semua?”

Halaman
123
Penulis: Wahyu Ardianti Woro Seto
Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved