Seperti Perempuan, Laki-laki Juga Dapat Mengalami Kemandulan, Simak Penjelasan Dokter Jati

Seperti halnya perempuan, laki-laki juga dapat mengalami Infertilitas, atau umum disebut kemandulan.

Seperti Perempuan, Laki-laki Juga Dapat Mengalami Kemandulan, Simak Penjelasan Dokter Jati
Istimewa
dr. Jati Suwantoro, dokter Rumah Sakit Hermina Banyumanik Semarang. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Seperti halnya perempuan, laki-laki juga dapat mengalami Infertilitas, atau umum disebut kemandulan.

Infertilitas atau kemandulan adalah ketidakmampuan satu pasangan memiliki anak meski sudah berhubungan seksual dengan benar.

Menurut dr. Jati Suwantoro, seorang dokter Rumah Sakit Hermina Banyumanik Semarang, ada jangka waktu seorang pasangan perlu memeriksakan dirinya ke dokter setelah menikah tapi tak kunjung punya buah hati.
Yaitu mulai satu tahun pascamenikah.

"Selama 1 tahun tanpa kontrasepsi. Mengapa 1 tahun? 85 persen perempuan mengalami kehamilan di tahun pertama setelah menikah," paparnya, Selasa (16/4/2019).

Menurutnya penyebah infertilitas ada bermacam-macam. Bahkan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor laki-laki dan juga perempuan.

"Faktor laki laki bisa disebabkan kelainan pada sperma baik jumlah, bentuk, kecepatan, infeksi," ujarnya.

Sedangkan faktor perempuan, menurutnya terdiri dari gangguan ovulasi, gangguan uterus, hingga faktor umur.

"Faktor usia perempuan sangat berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas sel telur," ujarnya.

Ia menjelaskan, di atas 30-35 tahun kemampuan perempuan mulai menurun, lalu tinggal 50 persen di umur 40 tahun dan selesai pada saat menopause.

Menurut dia, hal yang dapat dilakukan untuk mencegah infertilitas di antaranya mengedukasi perempuan dan laki-laki menurunkan faktor resiko yang ada.

Sehingga tak jatuh dalam kondisi yang dapat menyebabkan infertilitas.

"Misal makan makanan bergizi, olahraga, gizi seimbang, cukup tidur, kurangi stress," paparnya.

Selain itu rajin konsultasi dan melakukan pemeriksaan pada ahlinya harus dilakukan, sehingga menurutnya pasangan mendapat edukasi apakah masih memungkinkan punya keturunan atau tidak.

"Dapat diketahui kemungkinan penyebab infertilitasnya dan untuk selanjutnya bisa dilakukan pengelolaan yang sesuai," urai dia. (Ahm)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved