OPINI E Chrisna Wijaya : Internalisasi Persatuan Indonesia Pasca-Pemilu 2019

Agenda pelaksanaan pesta demokrasi terbesar di Indonesia, yaitu Pemilu 2019 pada tanggal 17 April 2019

OPINI E Chrisna Wijaya : Internalisasi Persatuan Indonesia Pasca-Pemilu 2019
Istimewa
Dr E Chrisna Wijaya 

Oleh Dr E Chrisna Wijaya
Dosen Teologi dan Kepemimpinan
Direktur Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Internasional Harvest Semarang

TRIBUNJATENG.COM -- Agenda pelaksanaan pesta demokrasi terbesar di Indonesia, yaitu Pemilu 2019 pada tanggal 17 April 2019, rupanya memberikan atmosfer ketegangan politik yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Hal itu mengingat bahwa pemilu 2019 merupakan pemilu serentak yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia. Pemilu kali ini, tidak hanya memilih Presiden dan Wakil Presiden, namun juga untuk memilih dan menetapkan wakil rakyat yang akan duduk di parlemen. Dalam Pemilu 2019, masyarakat akan mencoblos lima kertas suara, seperti yang diinformasikan oleh Ketua Bawaslu RI, Abhan (IDN Times, 15 April 2019).

Lima surat suara tersebut meliputi: pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, DPD RI, DPR RI, DPRD Provinsi serta DPRD Kabupaten/Kota, yang masing-masing surat dibedakan menurut warna kertas.Fenomena tersebut tentunya memberikan gambaran mengenai ketatnya kompetisi antar partai dan antar calon legislatif (caleg). Persaingan yang begitu ketat, dapat mengakibatkan munculnya berbagai macam pelanggaran dan isu-isu yang tidak menyenangkan, serta dapat menimbulkan perpecahan dan konflik baik antar suku, agama, golongan maupun pribadi.

Penyebaran fitnah dan hoax terjadi begitu masif dan sistemis, membuat masyarakat hampir tidak dapat membedakan mana hal yang benar dan hal yang salah. Panasnya suasana perdebatan, saling menjelekkan, saling melemparkan ejekan, bahkan tidak segan-segan untuk bermain-main dengan black campaign yang ditujukan untuk menjatuhkan kandidat lainnya, seringkali membuat pertemanan, persahabatan bahkan sampai dengan hubungan keluarga pun dapat menjadi rusak. Namun, Bahaya terbesar di balik semuanya itu, tentunya adalah perpecahan sebuah bangsa.

Kondisi tersebut tentunya bukan merupakan cita-cita bangsa Indonesia. Rusaknya persatuan dan kesatuan bangsa ini bukan merupakan impian dari para founding father bumi pertiwi ini. Cita-cita mulia dari bangsa yang besar ini adalah mengantarkan dan mewujudkan suatu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, seperti yang tersurat dengan jelas dalam alinea ke-2, Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945.

Ideologi dan dasar negara Indonesia adalah Pancasila, yang salah satu silanya berbunyi: “Persatuan Indonesia” (sila ke-3), dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika,” yaitu “berbeda-beda tetapi tetap satu.” Filosofi itu menunjukkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara, menjadikan “persatuan” sebagai bagian terpenting untuk mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari 17.504 pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke (Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum, Kemendagri RI), dengan jumlah penduduk terbesar dalam urutan keempat dunia, setelah Tiongkok, India dan Amerika Serikat, dengan jumlah penduduk 266,872.775 juta jiwa (JawaPos.com, 15 April 2019), serta enam (6) agama yang hidup berdampingan, yaitu: Islam, Katolik, Kristen Protestan, Budha, Hindu dan Khong Hu Cu (Keppres, No. 6/2000, SK Menteri Agama Republik Indonesia Nomor MA/12/2006). Kemajemukan dan keheterogenan bangsa ini tentunya telah mendatangkan kerumitan tersendiri, apalagi disertai dengan isu dan konflik panas serta berkepanjangan dari Pemilu 2019.

Bhinneka Tunggal Ika memberikan pengertian bahwa sekalipun Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang memiliki adat-istiadat, kebudayaan serta karakter yang berbeda, memiliki agama yang berbeda-beda, dan ribuan pulau yang tersebar di seluruh wilayah nusantara, namun keseluruhannya adalah merupakan suatu persatuan, yaitu persatuan bangsa dan negara Indonesia (Kaelan, 2016).

Upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dari situasi yang demikian, tentunya tidak hanya menjadi bagian dan tanggung jawab dari kandidat 01 atau kandidat 02, juga tidak hanya berada di pundak pemimpin bangsa yang terpilih nantinya. Hal itu harus menjadi bagian dan tanggung jawab dari seluruh komponen masyarakat Indonesia.
Salah satu upaya terpenting dalam mewujudkan hal tersebut adalah dengan menginternasilasi sila ke-3 Pancasila.

“Internalisasi,” adalah penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin, atau nilai, sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku (KBBI).

Pancasila sebagai ideologi negara, memberikan pedoman dan pegangan dalam hal sikap, tingkah laku, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi masyarakat Indonesia di mana pun mereka berada (Subandi Al Marsudi, 2004). Adapun sila ke-3, Persatuan Indonesia yang digambarkan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, memberikan pengertian bahwa perbedaan bukan untuk diruncingkan menjadi konflik dan permusuhan, melainkan diarahkan pada suatu sintesa yang saling menguntungkan yaitu persatuan dalam kehidupan bersama untuk mewujudkan tujuan bersama sebagai bangsa (Kaelan, 2016).

Perbedaan pandangan dan perbedaan pilihan dalam menyongsong pemilu 2019, merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Kalah atau menang pun, itu biasa. Hal terpenting yang harus dan wajib menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia, terutama pascapemilu 2019 adalah memiliki dan mewujudkan sikap serta perilaku positif sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia, yaitu menempatkan persatuan dan kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau pun golongan.

Dengan demikian apa yang menjadi cita-cita bangsa Indonesia bukan sekedar impian belaka. Bersama pemimpin bangsa yang terpilih, kita akan menyongsong masa depan bersama, menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved