8 Tahun Tak Ada Perbaikan, Warga Blokir Jalan Penghubung Kota dan Kabupaten Pekalongan

Warga memblokir jalan penghubung dua wilayah Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan yakni di Jalan KH Samanhudi

8 Tahun Tak Ada Perbaikan, Warga Blokir Jalan Penghubung Kota dan Kabupaten Pekalongan
Tribun Jateng/ Budi Susanto
Pemblokiran jalan yang dilakukan warga di Jalan KH Samanhudi, penghubung Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan, Selasa (23/4/2019).  

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Warga memblokir jalan penghubung dua wilayah Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan yakni di Jalan KH Samanhudi.

Pemblokiran jalan yang memiliki panjang sekitar 500 meter tersebut, sudah dilakukan sejak Sabtu (20/4/2019) malam.

Menggunakan ban bekas, bambu dan besi, warga sekitar memblokir akses menuju Desa Karang Jompo dan Tirto.

Pemblokiran dilakukan karena warga kesal dengan kondisi jalan yang tak pernah disentuh perbaikan dari 2011.

Menurut penuturan Guntoro (45) warga Jalan KH Samanhudi, jalan tersebut menjadi akses utama warga Karangjompo dan Tirto menuju jalur Pantura.

"Kami melakukan pemblokiran agar pemerintah memperhatikan akses jalan warga, karena selama ini pemerintah hanya datang lalu mengukur jalan tanpa ada realisasinya," jelasnya, Selasa (23/4/2019).

Selain buruknya kondisi jalan, ia menuturkan, jebolnya parampet di Sungai Miduri yang ada di sekitar pemukiman mengakibatkan jalan tergenang air.

"Warga sekitar mayoritas adalah pembatik akibat rusaknya jalan desa, perekonomian warga lumpuh. Selain itu, air sungai yang sering menggenangi jalan membuat warga gatal-gatal, kondisi semacam ini sudah berlangsung 8 tahun lamanya," ujarnya.

Pamong Desa Karangjompo, Abdul Kholiq menerangkan, pemblokiran dilakukan karena warga warga kesal dan resah. Pasalnya, kerap terjadi kecelakaan yang dialami pelajar saat melintas di jalan tersebut.

"Karena buruknya kondisi jalan, kami sering mendapat laporan para pelajar jatuh saat melintas. Selaku pihak desa kami merasa tidak enak karena banyak korban berjatuhan, berulang kali kami usulkan ke kelurahan setempat untuk dilakukan perbaikan, namun tak kunjung ditangani," jelasnya.

Kholid menambahkan, warga sempat melakukan perbaikan jalan secara swadaya, dan menghabiskan material sebanyak 87 truk untuk menguruk akses tersebut. Namun karena keterbatasan perbaikan dihentikan.

"Kalau terus menerus melakukan perbaikan secara swadaya kasihan warganya. Kami sampai bingung mau mengadu ke mana, baik Pemerintah Kota atau Kabupaten Pekalongan tidak ada kejelas," tambahnya.(*)

Penulis: budi susanto
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved