Mengamati Penangkaran Burung Hantu di Desa Wisata Tlogoweru Guntur Demak

Di Desa Wisata Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, misalnya. Di sini kita bisa mengamati bagaimana burung hantu

Mengamati Penangkaran Burung Hantu di Desa Wisata Tlogoweru Guntur Demak
Antara Foto / Aji Styawan
Masjid Apung Demak 

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK -- SEBAGAI tetangga Kota Semarang, wilayah Kabupaten Demak sayang bila dilewatkan. Apalagi saat melintas di jalur pantura. Selama ini, wisata religi memang kental di Kota Wali ini. Hal ini tak lepas dari keberadaan Masjid Agung Demak yang masyhur hingga kini hingga situs sejarah peninggalan raja-raja maupun Walisongo.

Di Desa Wisata Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, misalnya. Di sini kita bisa mengamati bagaimana burung hantu dipelihara dan dikembangbiakkan.

Wilayah Desa Wisata Tlogoweru dikelilingi hamparan sawah menghijau. Desa ini dikenal karena menjadi sentra penangkaran burung hantu Tyto Alba. Sebagian besar warga berprofesi sebagai petani memanfaatkan burung hantu untuk mengendalikan hama tikus yang merusak tanaman padi mereka.

Kepala Desa Tlogoweru, Soetedjo, mengatakan, pengalaman adanya serangan hama tikus sampai tahun 2010 belum teratasi. Sehingga petani sering mengalami kerugian karena serangan tikus merusak padi hingga 60-70 persen.

"Akhirnya kita berpikir kalau tanaman padi, jagung, dan palawija dimakan tikus, kemudian siapakah yang bisa memakan tikus," ungkapnya.

Nah, dalam rantai makanan, burung hantu jenis Tyto Alba ini merupakan pemangsa tikus dan dianggap akan efektif mengendalikan hama tikus.

Keberadaan Desa Wisata Telogowaru ini diresmikan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo pada tahun 2011. Setelah itu, orang berbondong-bondong belajar ke Desa Telogowaru terkait pengendalian hama tikus menggunakan burung hantu.

"Pengendali hama tikus biasanya menggunakan ulat bambu/ bumbung atau memakai rodentisida dari bahan kimia. Namun, di 

sini pengendalian hama tikus dilakukan secara biologi dengan memanfaatkan burung Tito Alba,"jelasnya.

Ketua Tim Tyto Alba, Pujo Arto menjelaskan burung hantu di dunia terdapat dua ratusan jenis, sementara di Indonesia ada lima puluhan jenis.

"Dari lima puluhan jenis di Indonesia yang spesifik pemakan tikus adalah burung Tyto Alba karena Tyto Alba aktivitasnya pada malam hari dan mudah sekali untuk dikembangkan," ucapnya.

Dia menjelaskan, keberadan burung hantu ini dilepasbebaskan di alam. Ada 170 sangkar yang tersebar di area 225 hektare persawahan Desa Tlogoweru. Sangkar ini menjadi tempat tinggal burung hantu, dan juga berguna sebagai tempat beranak.

"Jadi burung ini tidak perlu dipelihara dan di kandang terus-menerus," katanya. (Alaqsha Gilang Imantara)

Penulis: Alaqsha Gilang Imantara
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved