Kemeriahan Tradisi Gebyuran di Kampung Bustaman Semarang

Warga Kampung Bustaman, Semarang Tengah menggelar tradisi Gebyuran pada Minggu (28/4/2018) sekitar pukul 15.00 WIB.

Kemeriahan Tradisi Gebyuran di Kampung Bustaman Semarang
TRIBUN JATENG/LIKE ADELIA
Warga Kampung Bustaman, Semarang Tengah menggelar tradisi Gebyuran pada Minggu (28/4/2018) sekitar pukul 15.00 WIB. 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Warga Kampung Bustaman, Semarang Tengah menggelar tradisi Gebyuran pada Minggu (28/4/2018) sekitar pukul 15.00 WIB.

Tradisi yang rutin diadakan menjelang Bulan Ramadhan ini merupakan acar ke-7.

Tradisi gebyuran ini berawal dari kebiasaan Kyai Bustaman yang sering memandikan cucunya saat menjelang Ramadhan.

"Tradisi kampung yang diadakan setiap tahun ini kan mengikuti jejak Kyai Bustaman yang dulu setiap menjelang puasa selalu memandikan cucunya di sumur tua, tradisi utu kita lestarikan sampai sekarang," urai sesepuh Kampung Bustaman, Hari Bustaman.

Gebyuran ini memiliki makna sebagai penghapus dosa selama setahun ini.

Dosa-dosa tersebut disimbolkan dengan bedak cair yang ditempelkan di bagian wajah dan tubuh warga.

Warga Kampung Bustaman, Semarang Tengah menggelar tradisi Gebyuran pada Minggu (28/4/2018) sekitar pukul 15.00 WIB.
Warga Kampung Bustaman, Semarang Tengah menggelar tradisi Gebyuran pada Minggu (28/4/2018) sekitar pukul 15.00 WIB. (TRIBUN JATENG/LIKE ADELIA)

Kemudian air yang akan disiramkan kepada warga, air tersebut akan menghilangkan bedak dan sebagai simbol penghilang dosa.

Dengan semangat, seluruh warga larut dalam euforia perang air ini. 

Anak kecil, remaja, bapak-bapak hingga ibu-ibu saling lempar air berwana yang dibungkus dalam plastik.

"Dulu pakainya gayung dan ember, tapi sekarang sudah dimodifikasi dengan dikemas plastik dan diberi warna," ujar Hari.

Halaman
12
Penulis: Like Adelia
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved