Kisah Heroik Kiai Sirojudin, Pendiri Masjid Damarjati, Masjid Tertua di Salatiga

Ia adalah Kiai Sirojudin atau masyarakat Kota Salatiga mengenalnya dengan nama Kiai Damarjati

Kisah Heroik Kiai Sirojudin, Pendiri Masjid Damarjati, Masjid Tertua di Salatiga
Tribunjateng.com/M Nafiul Haris
Seorang petugas kebersihan membersihkan makam Kiai Damarjati yang terletak didepan seberang Masjid Damarjati berdiri tahun 1826 di Kampung Krajan, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jumat (10/5/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Antara tahun 1825-1830 ketika berkecamuk Perang Diponegoro yang titik awalnya ada di Jogjakarta hinggaakhirnya meluas sampai ke banyak tempat di pulau Jawa menyisakan cerita menarik dari seorang tokoh pengikut Pangeran Diponegoro.

Ia adalah Kiai Sirojudin atau masyarakat Kota Salatiga mengenalnya dengan nama Kiai Damarjati.

Sebutan itu, sebenarnya ialah samaran agar tidak diketahui kolonial Belanda pada masa tersebut, tokoh yang terlibat dalam Perang Jawa khususnya mereka tergabung dalam Laskar Diponegoromenggunakan strategi perang gerilya dan penyamaran.

Pemerhati Sejarah Kota Salatiga Eddy Supangkat mengatakan saat itu, ditengah pecahnya Perang Diponegoro dua sosok berpengaruh yang berasal dari Laskar Diponegoro datang ke Salatiga, Keduanya adalah Kiai Ronosentiko dan Kiai Sirojudin diduga kuat berasal dari Surakarta. Mereka bertugas menjadi memata-matai tentara Belanda di Salatiga.

“Padahal waktu itu Salatiga merupakan basis militer Belanda yang kuat, dan Salatiga dikenal sebagai kota garnisun atau kota militer Belanda.

Di Salatiga tentara Belanda memiliki  yang bernama De Hersteller, ada pasukan kavaleri yang handal, dan ada pula tangsi militer yang besar,” terangnya kepada Tribunjateng.com, Sabtu (11/05/2019)

Menurut Eddy, apabila laskar Diponegoro itu melakukan perang terbuka pasti akan kalah, sehingga pilihan paling realistis adalah dengan penyamaran dan perang gerilya. Dan itulah yang dilakukan oleh Kiai Ronosentiko dan Kiai Sirojudin (Damarjati) di Salatiga.

Hingga pada suatu waktu, guna menghindari kecurigaan Belanda, kedua laskar Diponegoro ini berpencar dan memilih pusat kegiatan yang berbeda. Kiai Sirojudin memilih tinggal di kampung Krajan dan Kiai Ronosentiko di kampung Bancaan.

Syiar agama Islam adalah cara yang mereka pilih dan itu sama sekali tidak menimbulkan kecurigaan di kalangan tentara Belanda.

“Nah, pada kampung Krajan inilah Kiai Ronosentiko dan Kiai Sirojudin membangun sebuah surau atau langgar. Saat pertama kali dibangun surau tersebut masih merupakan bangunan yang sederhana, dengan ukuran 36 meter persegi. Atapnya dari sirap dan dindingnya gabungan antara kayu dangedeg (anyaman bambu),” katanya

Warga melintasi bangunan Masjid Damarjati yang berdiri pada tahun 1826 terletak di Jalan Damarjati, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jumat (10/5/2019). TRIBUNJATENG.COM/M NAFIUL HARIS
Warga melintasi bangunan Masjid Damarjati yang berdiri pada tahun 1826 terletak di Jalan Damarjati, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jumat (10/5/2019). TRIBUNJATENG.COM/M NAFIUL HARIS (TRIBUN JATENG/M NAFIUL HARIS)
Halaman
12
Penulis: M Nafiul Haris
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved