Bentrok Perguruan Bela Diri, Bupati Wonogiri: Jangan Ngaku-ngaku Pendekar Jika Tak Berani Jujur

Terjadinya bentrok antar perguruan beladiri di Wonogiri menyebabkan keprihatinan.

Bentrok Perguruan Bela Diri, Bupati Wonogiri: Jangan Ngaku-ngaku Pendekar Jika Tak Berani Jujur
Humas Polres Wonogiri
Forum Silaturahmi Forkompinda, tokoh agama dan tokoh masyarakat dan jajaran Polres Wonogiri di Brumbung, Selogiri, Wonogiri, Selasa (14/5/2019) malam. 

TRIBUNJATENG.COM, WONOGIRI - Terjadinya bentrok antar perguruan beladiri di Wonogiri menyebabkan keprihatinan.

Bahkan, apa yang terjadi kala itu dianggap sebagai peristiwa yang memalukan dan mencoreng nilai luhur pencak silat.

“Atas emosional sesaat yang membabi buta dengan adanya Kasat Reskrim AKP Aditia kena amukan massa, sehingga kita semua telah menciderai olahraga kita, menciderai segalanya,” ujar Bupati Wonogiri Joko Sutopo saat membuka forum Silaturahmi Forkompinda, tokoh agama, tokoh masyarakat dan jajaran Polres Wonogiri di Brumbung, Selogiri, Wonogiri, Selasa (14/5/2019) malam.

“Jangan ngaku-ngaku pendekar jika tak berani jujur."

"Sifat pendekar adalah berani jujur mengakui segala perbuatan dan siap menanggung resikonya itulah jiwa kesatria."

"Sekali lagi saya tegaskan Ketua PSHT di manapun berada bisa membantu kepolisian," lanjutanya dalam rilis yang diterima Tribunjateng.com, Rabu (15/5/2019).

Selain itu, bupati juga mengajak agar kalangan pendekar merenungi dan harus berani jujur dan berjiwa kesatria atas apa yang dialami AKP Aditia Mulya Ramadani.

Karena pengamanan bentrok Rabu (8/5/2019) malam ia justru jadi korban amuk massa.

AKP Aditia, memiliki tiga buah hati dan sekarang dirinya dalam kondisi masih terbaring tak berdaya di rumah sakit.

“Apa yang kita peroleh dalam kondisi ini? Apakah itu organisasi yang baik?"

Halaman
12
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved