Ngopi Pagi

FOKUS : Ananda yang Bersahaja

Meraih nilai ujian nasional (UN) sempurna bisakah? Seputar UN selama ini seringkali menjadi biang pro dan kontra di masyarakat.

FOKUS : Ananda yang Bersahaja
tribunjateng/bram
Muslimah wartawan tribunjateng.com 

Oleh Muslimah

Wartawan Tribun Jateng

Meraih nilai ujian nasional (UN) sempurna bisakah? Seputar UN selama ini seringkali menjadi biang pro dan kontra di masyarakat. Masalah UN sempat kembali heboh saat beberapa waktu lalu, dalam debat Pilpres 2019, Calon wakil presiden Sandiaga Uno mewacanakan penghapusan UN karena dinilai lebih banyak memberikan beban mental kepada siswa.

Seperti diketahui, UN 2019 dilaksakan dalam 2 pilihan sistem yakni: Ujian Nasional Berbasis Komputer ( UNBK) dan Ujian Nasional Berbasis Kertas Pensil ( UNKP). Setelah pelaksanaan beberapa waktu lalu, seperti biasa, muncul keluhan terkait susahnya soal UN, terutama untuk mata pelajaran matematika.

Keluh kesah tersebut diantaranya disampaikan di kolom komentar pada unggahan di akun resmi Instagram Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), @kemdikbud.ri. Bahkan ada siswa yang menganggap UN seperti ujian hidup karena susahnya soal yang harus diselesaikan.

Kini, setelah nilai UN keluar, muncul kejutan dari Solo. Siswa kelas XII Jurusan IPA 6 SMAN 4 Surakarta, Ananda Hafidh Rifai meraih nilai sempurna 100 di empat mata pelajaran yakni matematika, bahasa inggris, kimia dan bahasa indonesia. Yang membuatnya terlihat lebih spesial karena Ananda Hafidh selama ini ia tak pernah mengikuti bimbingan belajar atau bimbel. Selain di sekolah, ia belajar secara otodidak.

"Saya belajar sendiri. Selain dapat dari buku pelajaran di sekolah, kadang dapat materi dari internet," katanya.

Ananda Hafidh tidak pernah mengikuti bimbel bukan karena kurang tertarik, melainkan karena ia takut membebani orangtua. Biaya bimbel tentu tidak sedikit, dan bagi keluarga sederhana, itu bisa sangat membebani.

Ananda Hafidh memang terlahir dari keluarga sederhana. Sang ayah sudah meninggal dunia dan saat ini kebutuhan keluarga dipenuhi oleh ibunya, Supatmi, yang sehari-hari bekerja sebagai penjual mainan anak-anak di depan sekolah dasar. Dengan pekerjaan tersebut, penghasilan Bu Supatmi sehari-hari tidak menentu dan ia juga masih harus membiayai tiga anak yang lain, adik-adik Hafidh.

Kini, masa depan yang cerah tampaknya sudah ada di depan mata Ananda Hafidh. Berkat kerja keras dan sikapnya yang pantang mengeluh serta tak mau membebani orangtua, tak hanya membuat ia meraih nilai sempurna. Ia kini juga sudah diterima di Jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Prestasi dan kebersahajaan siswa asli Kartasura Sukoharjo ini seolah oase di tengah banyaknya berita negatif dari dunia pendidikan beberapa waktu terakhir. Kita tentu masih ingat peristiwa pengeroyokan siswi SMP oleh 12 siswi SMA yang terjadi karena persoalan sepele dan makin panas karena mereka saling serang di media sosial.

Masih banyak berita kurang sedap lain dari dunia pendidikan. Seperti siswa yang berjoget dan menyawer guru mereka di depan kelas, hingga siswa yang bersama orangtuanya mengeroyok penjaga sekolah. Itu belum termasuk berita tawur antar pelajar yang selalu memakan korban.

Kita akan selalu optimis, ke depan akan muncul Ananda Hafidh yang lain, yang mampu memberi warna positif. Kisah seperti inilah yang harus diviralkan sehingga menjadi inspirasi bagi semua orang. Segala masalah, saat disikapi dengan lapang dada dan kerja keras pantang menyerah pasti akan berbuah hasil postif. Hasil takkan mengkhianati usaha, maka jangan menyerah. (*)

Penulis: muslimah
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved