Potret Ramadan dan Lebaran Era Kolonial, 1929 Baru Diizinkan Salat Ied Berjamaah di Tempat Terbuka

bagaimana situasi Ramadan masyarakat Indonesia di era kolonial? Umat Muslim di Indonesia masih diberikan keleluasaan dalam menjalankan ibadahnya

Potret Ramadan dan Lebaran Era Kolonial, 1929 Baru Diizinkan Salat Ied Berjamaah di Tempat Terbuka
Wikimedia Commons, Tropenmuseum via Nationalgeographic.grid.id
Tentara Belanda sedang memeriksa surat-surat dari perempuan Jawa. 

TRIBUNJATENG.COM - Ramadan merupakan bulan yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Bulan ini dijadikan sebagai momentum untuk bisa meningkatkan nilai spiritualitas, tak terkecuali bagi masyarakat tempo dulu.

Lalu bagaimana situasi Ramadan masyarakat Indonesia di era kolonial?

Menurut dosen Sejarah IAIN Surakarta, Martina Safitry, ketika itu Belanda masih memiliki kontrol terhadap sistem pemerintah Indonesia.

Walau demikian, umat Muslim di Indonesia masih diberikan keleluasaan dalam menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinan.

Sama seperti masa sekarang, perdebatan mengenai penentuan awal Ramadan juga telah ada sejak dulu kala.

Pada masa sekarang, penentuan awal Ramadhan ditentukan dengan perhitungan hisab dan rukyat yang dipimpin Kementerian Agama.

Namun, pada masa penjajahan pihak yang menentukan awal Ramadhan adalah Perhimpoenan Penghoelo dan Pegawainya (PPDP) atau lebih dikenal Hoofdbestuur.

Meski demikian, ternyata dua organisasi Islam terbesar di Indonesia Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) memiliki Hoffbestuur-nya sendiri.

Lembaga itu juga memiliki peran besar terhadap penentuan awal Ramadan.

Halaman
1234
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved