PPDB 2019, Jika Kuota Jalur Prestasi dan Perpindahan Tak Terpenuhi, Dialokasikan ke Kuota Zonasi

Kepala Disdik Semarang Gunawan Saptogiri mengungkapkan untuk kuota di PPDB 2019 jenjang SD dan SMP, 90 persen diperuntukkan untuk kuota zonasi.

PPDB 2019, Jika Kuota Jalur Prestasi dan Perpindahan Tak Terpenuhi, Dialokasikan ke Kuota Zonasi
TRIBUN JATENG/AKBAR HARI MUKTI
ILUSTRASI / Tes akademik penerimaan peserta didik baru SMK Pelayaran Wira Samudra Semarang, Selasa (7/5/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sesuai Permendikbud 51 tahun 2018 tentang penerimaan peserta didik baru jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan SMK, sistem zonasi dilakukan untuk meminimalisasi kecurangan yang bisa terjadi.

Kepala Disdik Semarang Gunawan Saptogiri mengungkapkan untuk kuota di PPDB 2019 jenjang SD dan SMP, 90 persen diperuntukkan untuk kuota zonasi.

Kemudian, 5 persen kuota untuk jalur prestasi dan 5 persen lagi untuk kuota perpindahan orangtua.

Gunawan mengungkapkan, jika kuota 5 persen jalur prestasi dan 5 persen kuota perpindahan orangtua tak terpenuhi, sisa kuota tersebut diwajibkan dipakai untuk kuota zonasi.

"Jadi tidak kosong tapi dipakai untuk pendaftar jalur zonasi," katanya via sambungan telepon, Rabu (15/5/2019).

Maka menurutnya, agar kecurangan tak terjadi, tiap sekolah harus terbuka terkait kuota jumlah kursi untuk peserta didik baru.

"Pengumuman kuota kursi sekolah perlu dipublikasi," ujarnya.

Dengan itu maka tak ada kursi yang disembunyikan sekolah.

Dikatakannya, rumus penghitungan ppdb dalam zonasi untuk SD, adalah 7 x usia calon siswa, ditambah nilai jarak tempat tinggal ditambah nilai lingkungan.

Jika siswa mendaftar sekolah di zonasinya, maka nilai jarak tempat tinggalnya adalah 50. Bila tidak, maka nilainya 40.

"Jika ia usia 7, maka 7x7 = 49. Ditambah zonasi, misal ia mendaftar sekolah sesuai zonasinya, maka ditambah 50, jadi 99. Ditambah nilai lingkungan," papar Gunawan.

Sementara untuk rumus penghitungan ppdb dalam zonasi untuk SMP, menurut Gunawan rumusnya adalah nilai zonasi ditambah 7/6 nilai USBN saat SD, ditambah nilai prestasi dan nilai lingkungan.

"Sistem ini diterapkan untuk pemerataan sekolah. Dengan begitu tak ada lagi istilah sekolah favorit," ujarnya. (Ahm)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved