Ngopi Pagi

FOKUS : Rambu Peringatan Itu Berbentuk Penghargaan

Kota Semarang dinobatkan sebagai kota dengan pembangunan infratruktur daerah skema KPBU (kerjasama pemerintah dengan badan usaha) terbaik

FOKUS : Rambu Peringatan Itu Berbentuk Penghargaan
tribunjateng/grafis/bram
RIKA IRAWATI wartawan Tribun Jateng 

Oleh Rika Irawati
Wartawan Tribun Jateng

Pekan lalu, Kota Semarang dinobatkan sebagai kota dengan pembangunan infratruktur daerah skema KPBU (kerjasama pemerintah dengan badan usaha) terbaik dan kota dengan perencanaan dan pencapaian terbaik tingkat kota. Penilaian dari Kementerian PPN/ Bappenas ini diwujudkan dalam bentuk penghargaan yang diberikan langsung Presiden Joko Widodo kepada Wali Kota Hendrar 'Hendi' Prihadi.

Secara kasat mata, penghargaan tersebut memang layak diterima. Lihat saja pembangunan infrastruktur di pusat kota yang membuat Kota Semarang terlihat lebih rapi dan cantik.

Pelebaran jalan dan pedestrian luas dilengkapi street furniture, semisal kursi taman dan bola-bola beton sebagai hiasan; pengembangan taman kota dan menambah fasilitas sehingga menjadi destinasi wisata baru; juga pengolahan sampah menjadi tenaga listrik yang dikerjasamakan dengan investor asal Denmark.
Komitmen pemkot meningkatkan pelayanan terkait infrastruktur juga layak diacungi jempol. Lewat kanal Lapor

Hendi, warga bisa menyampaikan keluhan, pengaduan, kritik, dan saran yang dijanjikan cepat direspon. Bahkan, aduan terkait jalan rusak yang dilengkapi foto, yang disampaikan langsung ke akun media sosial wali kota, mendapat tanggapan cepat. Tak perlu menunggu hitungan hari, dalam waktu beberapa jam setelah laporan disampaikan dan dibaca wali kota, petugas DPU sudah turun ke jalan menambal lubang-lubang jalan.

Namun, bukan berarti, perolehan penghargaan tersebut meniadakan persoalan yang masih ada. Untuk infrastruktur jalan, masalah genangan air di hampir setiap sudut kota, saat hujan deras melanda, menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar.

Selama ini, pemkot hanya berupaya meniadakan banjir akibat rob dan penurunan muka tanah di beberapa titik di Kota Atlas. Tapi, seolah melupakan genangan air akibat buruknya drainase perkotaan.

Memang, genangan air ini hilang paling lama 30 menit sampai satu jam setelah hujan reda. Tak jadi persoalan pula saat musim kemarau tiba. Namun, saat hujan deras melanda, pengguna jalan tak hanya harus menembus tingginya genangan tetapi juga melawan derasnya arus air yang mengalir di jalan. Ini terjadi akibat air hujan tak secara tepat dan cepat terserap ke saluran pembuangan.

Penghargaan tersebut juga harus menjadi rambu bagi warga untuk terus memantau infrastruktur yang ada dan akan ada. Ini bisa dilakukan lewat mengawal penyusunan rencana anggaran pendapatan dan belanja (RAPBD) 2020 yang sebentar lagi berjalan.

Apakah usulan yang sebelumnya muncul dalam pembahasan musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) tingkat kelurahan, kecamatan, hingga kota, tertuang benar dalam penyusunan kegiatan dan pembiayaan pembangunan untuk tahun depan.

Saatnya pula, menagih janji wakil rakyat yang duduk di parlemen. Di masa kerja mereka yang berakhir Agustus nanti, kita harus memastikan mereka tetap bekerja maksimal mengawasi penyusunan RAPBD 2020. Mereka bakal ikut bertanggung jawab saat realisasi pembangunan infrastruktur tak sesuai harapan dan kebutuhan masyarakat. (*)

Penulis: rika irawati
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved