Dinas Kesehatan Batang Sita Ratusan Takjil, Positif Mengandung Rhodamin B Tinggi

Tim aman pangan dari Dinas Kesehatan Batang menyita ratusan bungkus bahan takjil yang positif mengandung Rhodamin B cukup tinggi

Dinas Kesehatan Batang Sita Ratusan Takjil, Positif Mengandung Rhodamin B Tinggi
TRIBUN JATENG/DINA INDRIANI
Tim aman pangan dari Dinas Kesehatan Batang menyita ratusan bungkus bahan takjil yang positif mengandung Rhodamin B cukup tinggi dari hasil sidak dari sejumlah pedagang di Pasar Limpung dan Tersono, Jumat (17/5/2019). 

TRIBUNJATENG.COM,BATANG - Tim aman pangan dari Dinas Kesehatan Batang menyita ratusan bungkus bahan takjil yang positif mengandung Rhodamin B cukup tinggi dari hasil sidak dari sejumlah pedagang di Pasar Limpung dan Tersono, Jumat (17/5/2019).

Kabid Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan, dr Zunuron melalui Kasi Kefarmasian dan Alkes Riza Zakiyah mengatakan dari hasil sidak tim menyita sekitar 600 bungkus cenil (cendol) yang positif mengandung pewarrna tekstil.

"Dari sidak yang kami lakukan di Batang Timur, Tersoni, Limpung dan sekitarnya , kami menyita 500-600 bungkus cenil (cendol) yang positif mengandung Rhodamin B yang sering digunakan sebagai pewarna tekstil," terang Riza.

Riza mengatakan tak hanya cenil saja, pihaknya juga menemukan bahan takjil lainnya yang positif mengandung zat berbahaya.

Bahkan ketika diuji lab kandungannya cukup tinggi.

"Selain cenil tim kami juga menemukan kolang kaling yang telah diberi pewarna tekstil, jika dilihat dengan mata telanjang saja warnanya sudah sangat mencolok. Ada sekitar 15 kilogram kolang kaling yang kami sita dan sudah kami amankan ke pihak pasar untuk segera dimusnahkan," ujarnya.

Berdasarkan pengakuan para pedagang, beberapa produk tersebut merupakan olahan industri rumahan di Wonosari Plantungan Kendal.

Selain itu Tim Aman Pangan juga mengunjungi salah satu produsen bahan takjil.

Produsen tersebut mengaku baru kali ini menggunakan pewarna bentuk bubuk.

"Waktu kami datangi langsung ternyata benar yang digunakan adalah pewarna tekstil. Dan bungkusnya pun menggunakan bungkus plastik bekas bungkus kecap," ujarnya.

Dikatakan Riza, berdasarkan pengakuan produsen tersebut mereka baru pertama kali menggunakan pewarna tersebut lantaran stok pewarna biasanya habis di pasaran.

"Sudah kami lakukan edukasi agar hal tersebut tidak terjadi kembali," pungkasnya.(din)

Penulis: dina indriani
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved