Ngopi Pagi

FOKUS : Memilih Jalan Aman

Mengikuti perkembangan dunia politik di tanah air, seolah bak melihat drama kolosal tanpa ending. Sebab, tokohnya selalu berganti-ganti.

FOKUS : Memilih Jalan Aman
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
RUSTAM AJI wartawan Tribun Jateng 

Oleh Rustam Aji

Wartawan Tribun Jateng

Mengikuti perkembangan dunia politik di tanah air, seolah bak melihat drama kolosal tanpa ending. Sebab, tokohnya selalu berganti-ganti.

Di “arena” politik, sudah mafhum tidak ada lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Tak berlebihan bila kemudian panas dingin suhu politik dianggap sebagai hal yang biasa. Sekarang lawan besok jadi kawan, demikian halnya sebaliknya. Yang jadi korban, tentu rakyat yang merasa diombang-ambingkan dengan ketidakpastian kepentingan mereka.

Pada akhirnya, akan terlihat tabiat politik dari masing-masing politisi, apakah akan memilih jalan aman atau memilih berseberangan dengan lawan politik. Namun, menilik pengalaman Pemilu sebelum-sebelumnya, pada Pemilu 2019 ini, dipastikan juga akan banyak politisi ataupun Parpol yang memilih jalan aman untuk loncat mendukung yang menang, tanpa mempedulikan rasa malunya.

Sebagai rakyat, menyaksikan kenyataan tersebut, jelas bukanlah sebagai pembelajaran politik yang elegan. Sebab, tidak ada keteguhan politik yang dipertontonkan, yang ada hanya kepentingan sesaat: kepentingan untuk sebuah kekuasaan.

Menghadapi fenomena politik saat ini, ada baiknya para politisi bisa belajar dari filsuf Socrates, yang rela dihukum mati demi mempertahankan ide-idenya yang diyakini kebenarannya pada 15 Februari 399 SM.

Guru dari Plato ini, memilih hukuman mati ketimbang hukuman berimigrasi ke luar kota (Athena). Oleh Plato, pembelaan Socrates kemudian ditulis dalam sebuah karya yang terkenal dengan Apologia/Apology.

Apologia kemudian menjadi rujukan para kaum intelektual sekaligus praksis dari the art of principle. Apologia merupakan seni mempertahankan prinsip-prinsip secara lugas, tegas, dan tanpa kompromi. Namun menariknya, jalan Socrates ini tak diikuti oleh muridnya Plato, Aristoteles sebagai guru dari Alexander Agung.

Berbeda dengan Socrates yang tetap memilih dihukum mati, Aristoteles lebih memilih untuk menyingkir ke luar kota saat diadili oleh musuh-musuh politik Alexander Agung. Inilah yang kemudian melahirkan pemikiran “politik kompromi”. Semua boleh asal tujuan terpenuhi. Apakah itu dengan lobi-lobi tertutup hingga penggunaan uang. Seolah, segalanya halal dilakukan asal ada jaminan tujuan bisa dicapai.

Nah, sekarang, sebagai rakyat, akankah pada akhir Pemilu 2019 ini bisa menyaksikan politisi laiknya Socrates? Atau memilih jalan Aristoteles?

Dinamika politik akhir-akhir cukup mengindikasikan akan adanya "kompromi-kompromi" politik untuk mengakomodir pihak-pihak lawan. Hal ini dapat dipahami mengingat dengan selisih perolehan suara yang tidak terlalu besar, pihak pemenang akan membutuhkan suara mayoritas di parlemen kelak.

Pilihan-pilihan tersebut, pada sisi lain pasti akan mengorbankan yang lain. Namun, itu akan diyakini sebagai sebuah pilihan jalan politik yang paling aman.

Karena itu, dalam pilihan politik saat ini, kita jangan bermimpi akan menemukan seorang politisi seberani Socrates. Yang berani menerima hukuman dengan tetap bisa bercanda dengan teman-temannya. (*)

Penulis: rustam aji
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved