Delegasi Riau Didesak Tolak Nurdin Khalid
Pengurus provinsi PSSI dan tiga klub asal Riau didesak memposisikan diri pro pembaharuaan dalam Kongres PSSI di Bali, Maret mendatang.
Penulis: ignatius prayogo | Editor: ignatius prayogo
Laporan: Raya Nainggolan
PEKANBARU, TRIBUN - Pengurus provinsi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan tiga klub asal Riau didesak memposisikan diri sebagai kelompok pro pembaharuaan dalam Kongres PSSI di Bali, Maret mendatang.
Suara lantang untuk dilaksanakannya reformasi di tubuh induk olahraga sepakbola nasional harus didukung oleh delegasi yang memiliki hak suara. PSSI Riau dan klub diminta untuk mendengarkan aspirasi masyarakat yang menginginkan regenerasi kepemimpinan dari kekuasaan Nurdin Halid.
Anggota Komisi D DPRD Riau, Arifin Bantu Purba mendesak, PSSI dan pengurus klub Riau agar ikut dalam gerakan penolakan pencalonan kembali Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI. Bila hanya diam, maka hal tersebut sama saja melakukan pembiaran atas buruknya sepakbola nasional saat ini.
"Sebagai bagian komunitas sepakbola nasional, delegasi asal Riau harus mendukung reformasi PSSI. Jangan hanya diam dan justru mendukung Nurdin Halid. Suara kritis ini harus dimotori oleh insan sepakbola Riau," kata Purba kepada Tribun, Kamis (24/2).
Menurutnya, delegasi asal Riau perlu terlibat langsung menyatakan protes atas pencoretan dua calon ketua umum yang dipandang pro pembaharuan yakni Jenderal George Toisutta dan Arifin Panigoro. Menurutnya, pencoretan tersebut sebagai tindakan tak etis untuk melanggengkan kekuasaan Nurdin di PSII. Ia meminta, pengurus sepakbola Riau agar menggunakan hati nurani untuk terlibat langsung menyatakan keberatan atas kejadian tersebut.
"Kalau insan sepakbola Riau, terlebih PSSI dan tiga klub mendukung Nurdin, itu sama saja bohong. Artinya, PSSI Riau juga terlibat dalam pembusukan itu. Masyarakat akan marah. Ingat, sepakbola tidak hanya milik pengurus. Tapi milik rakyat," kata Purba.
"Saya tak kenal siapa itu Toisutta dan Arifin. Jadi tak ada kepentingan saya. Hanya PSSI butuh perubahan. Warga Riau juga menginginkan itu," kata Purba.
Ia menambahkan, PSSI Riau dan tiga klub yang punya hak suara merupakan organisasi yang dibiayai dari dana publik (APBD). Karena itu, organisasi tersebut harus mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.
"Saya minta Pak Indra (Ketua PSSI Riau) untuk peduli masalah ini. Jangan ikut status quo. Ada apa kalau dia (Indra) dukung Nurdin lagi," katanya.
Sebelumnya, dalam pelantikan pengurus PSSI Riau, pekan lalu, Indra Muklish Adnan menyatakan kalau dirinya menilai kepemimpinan Nurdin Halid perlu dilanjutkan. Alasan Indra, sosok Nurdin telah membuat PSSI dikenal. Indra yang juga Ketua DPD Golkar Riau ini merasa di tangan Nurdin olahraga sepakbola nasional menjadi maju. Pernyataan Indra ini menuai kritik keras dari sejumlah kalangan.
Purba mengecam sikap Indra yang justru mendukung Nurdin yang pernah mendekam dalam penjara dalam kasus korupsi. Padahal, harusnya menurut Purba, catatan hitam hukum tersebut telah melanggar ketentuan sepakbola nasional maupun FIFA.
"Kenapa yang pernah dihukum kasus korupsi lulus pencalonan. Kenapa pula PSSI Riau tetap mendukung. Ini perlu dipertanyakan," kata mantan pengacara ini keras.
Provinsi Riau memiliki empat suara dalam Konggres PSSI empat tahunan yang akan dilaksanakan di Bali, Maret mendatang. Selain PSSI Riau, tiga klub yakni PSPS, Persires dan Persih juga memiliki hak suara. Dalam nominasi pencalonan balon ketua umum, keempat delegasi tersebut mendukung Nurdin Halid kembali sebagai calon ketua umum.
Langkah berani untuk ikut menyuarakan reformasi PSSI juga disampaikan Rektor Universitas Riau, Profesor Ashaluddin Jalil. Menurut Ashaluddin, delegasi Riau harus membuktikan sebagai kelompok yang menginginkan perubahan, bukan pihak status quo.
"Bila tidak, maka pengelolaan sepakbola di Riau (PSSI Riau), sama saja dengan PSSI di Jakarta. Pengurusnya tenar, tapi atletnya hancur," terang Ashaluddin lewat pesan singkat yang dikirimnya kepada Tribun.
Ia menegaskan, delegasi Riau harus berpikir dan mengambil pilihan rasional yang sejalan dengan semangat reformasi PSSI seperti diinginkan hampir seluruh lapisan masyarakat. Riau harus memberikan pilihan dan dukungan kepada figur yang mampu mengubah paradigma PSSI lebih baik.
"Berpihaklah pada si pembawa perubahan. Jangan takut. Kecuali PSSI Riau sama dengan PSSI pusat," tambahnya.(ran)