Breaking News:

Banjir Rob Genangi Lahan Pertanian Milik Warga

Sekitar sepuluh hectare lahan pertanian di wilayah Desa Banaran, Kecamatan Galur terendam air payau

Banjir Rob Genangi Lahan Pertanian Milik Warga

 Laporan  warawan  Tribun Jogya / has
TRIBUNJATENG.COM  KULONPROGO, - Sekitar sepuluh hectare lahan pertanian di wilayah Desa Banaran, Kecamatan Galur terendam air payau akibat banjir rob air laut Pantai Trisik pada Kamis(2/9/2011) malam. Akibatnya, tanaman padi dan jagung di lahan tersebut terancam mati.

Salah satu warga Dusun VI, Desa Banaran, Kecamatan Galur, Samiyo mengatakan kalau meluapnya air ini dipicu tersumbatnya aliran sungai Progo oleh pasir. Aliran ini tersumbat karena adanya tabrakan arus sungai yang kecil dengan arus air laut yang cukup kuat sehingga membuat pasir menutup jalur air.

“Arus dari laut cukup kuat sehingga pasir yang ada di dalam sungai terbawa dan menutupi jalur aliran  air. Lama-kelaman, sedimen pasir ini meninggi sehingga air meluber ke lahan di sekitar sungai,”katanya, Sabtu(3/9).

Samiyo mengatakan, air yang menggenangi lahan pertanian ini baru surut pada Sabtu(3/9)pagi sekitar pukul 07.00 wib bersamaan dengan surutnya air laut. Rencananya, warga masyarakar bersama pemilik  lahan akan melakukan kerja bakti untuk menyingkirkan pasir yang menutupi aliran air pada Minggu (4/9) ini.

“Kami merencanakan untuk kerja bakti pada hari Minggu karena  saat ini airnya sudah surut,”ucapnya.

Menurutnya, kalau tidak segera dilakukan kerja bakti, dikhawatirkan luapan air payau ini akan semakin meluas sehingga merugikan masyarakat yang lahan pertaniannya sudah ditanami padi.

Samiyo menutukan, kejadian yang serupa juga pernah terjadi di sisi timur Sungai Progo beberapa waktu yang lalu. Pemilik lahan dan warga langsung melakukan kerja bakti sehingga kejadian yang sama tidak terulang lagi.

Salah satu pemilik lahan yang terkena banjir rob air laut, Dwi Sunanto mengatakan kalau tanaman padi miliknya yang baru berumur 10 hari dipstikan akan mati karena air yang menggenangi mengandung kadar garam yang cukup tinggi. Benih padi ini akan langsung layu begitu air surut.

“Tanaman padinya pasti akan mati karena baru berumur sekitar 10 hari. Tanaman seumur ini belum mimiliki akar yang kuat untuk bertahan,”katanya.

Dwi mengaku kalau banjir rob ini membuatnya mengalami kerugian yang cukup banyak karena modal yang ia keluarkan untuk mengolah dan menanami lahan sekitar 2000 meter cukup banyak namun  dirinya belum bisa memastikan berapa jumlahnya. “Kerugiannya cukup banyak tapi saya belum bisa memastikan berapa jumlahnya,”ucapnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved