Pengusaha Knalpot Purbalingga Butuh Bantuan Mesin
Sejumlah produsen knalpot di Purbalingga, Jawa Tengah mengaku kekurangan mesin produksi. Saat ini
TRIBUNJATENG.COM PURBALINGGA- Sejumlah produsen knalpot di Purbalingga, Jawa Tengah mengaku kekurangan mesin produksi. Saat ini para perajin kebanyakan membuat knalpot secara manual.
"Akibatnya kualitas dan kuantitas produksi knalpot dari Purbalingga kurang memenuhi pesanan pabrik," kata pengusaha knalpot, Muhajirin (53).
Ia menambahkan alat yang dibutuhkan antara lain mesin pon, alat pres, mesin bending dan matras. Perajin tak mampu membeli alat-alat tersebut karena harganya relatif mahal.
"Pengadaan mesin dari bantuan Pemkab Purbalingga kurang memenuhi. Kita butuh investor," kata Muhajirin yang saat ini sedang mengerjakan pesanan knalpot untuk agen tunggal pemegang merek (ATPM).
Kebutuhan pengadaan mesin produksi juga disampaikan oleh Khoerul Anam, pengusaha knalpot asal Desa Pesayangan, Purbalingga Lor.
"Tahun 2012 kita ingin meningkatkan jumlah produksi. Alat-alat harus dipentingkan karena penggarapan secara manual kurang cepat," kata pengusaha yang akrab disapa Eyung ditemui di pabriknya, Senin (2/1) siang.
Menanggapai keinginan produsen, Kabid Industri Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Purbalingga, Agus Purhadi Satyo mengatakan pihaknya sudah melakukan mesin bending seharga Rp 400 juta. Alat tersebut saat ini kata dia ditempatkan di kantor UPTD Logam dan dapat digunakan secara sewa oleh perajin knalpot.
"Kita memfasilitasi para pengusaha dan perajin yang kesulitan mendapatkan mesin. Memang betul kebanyakan produksi masih dilakukan secara manual," katanya.
Industri knalpot di Kota Purbalingga kata dia berkembang sejak era 1960-an dan bertahan hingga kini di Pesayangan dan Sawangan Purbalingga. Hasil home industri tersebut dipasarkan untuk kebutuhan bengkel spesial knalpot, toko otomotif baik di dalam kota maupun dipasarkan ke kota-kota besar di Pulau Jawa dan Sumatera.